Menemukan politik di tengah masyarakat yang sedang dilanda kegalauan sosial-politik nyaris sama sukarnya dengan menemukan kejujuran di tengah pasar barang-barang selundupan yang sedang hiruk-pikuk dikunjungi penyelundup, penadah, dan pembeli. Mungkin ungkapan itu terasa agak berlebihan. Akan tetapi realitas kehidupan politik yang bising oleh jargon-jargon yang diteriakkan para politisi, hiruk-pikuk para pengamat, kekacauan komunikasi politik, konflik-konflik internal partai-partai politik yang makin terbuka, persaingan tidak sehat calon-calon legislatif, kerusuhan di berbagai momen pilkada, dan kebrutalan kaum birokrat dan anggota legislatif dalam mengeruk kekayaan negara dewasa ini, setidak-tidaknya mengindikasikan kenyataan itu. Tentu apabila kita mengamatinya lebih seksama dengan menggunakan kaca mata makna filosofi politik sebagaimana dirumuskan para filosof dan orang-orang bijak. Antara lain seperti dikemukakan Aristoteles, “Politik adalah ikhtiar bersama dalam mencapai kebahagiaan”. Atau yang dikatakan Ibnu Qayyim dan Plato. “Politik adalah upaya manusia mendekatkan kehidupan kepada perbaikan dan menjauhkan dari kerusakan”. “Politik sebagai usaha untuk menata kehidupan yang lebih baik dalam masyarakat”.
Baik pandangan yang dikemukakan Aristoteles, Ibnu Qayyim, ataupun Plato, secara esensial meniscayakan adanya etika dalam politik yang secara definitif disebut etika politik. Para ahli etika politik selalu menegaskan, tujuan etika politik adalah mengarahkan kehidupan bersama ke arah yang lebih baik dengan cara memperluas nilai-nilai kebaikan di masyarakat melalui pembentukan institusi yang adil yang menjai sarana mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan demikian, sesuai dengan pandangan Ibnu Khaldun, politik atau kekuasaan sangat erat hubungannya dengan keluhuran moral. Dalam perspektif ini politik atau kekuasaan harus dipandang sebagai amanah. Pada hakikatnya, kekuasaan yang ada pada sang penguasa adalah konsekuensi dari adanya moral yang tinggi yang ada pada dirinya. Ibnu Khaldun selanjutnya menegaskan, peran agama, yang menjadi akar moralitas manusia, dalam diri para politisi dan penguasa haruslah besar dikarenakan ia menduduki posisi sentral dalam mengarahkan tingkah laku politik seorang penguasa.
Oleh sebab posisi akhlak atau moralitas sebagai sumber setiap tindaan politik, bahkan setiap tindakan peribadi dan masyarakat dalam satu ikatan bersama, maka keberadaan akhlak atau moralitas, menurut Imam Ghazali, mendahului keberadaan negara dan politik. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa akhlak dan moralitas harus menjadi ukuran yang jelas dan tegas bagi politik suatu bangsa, baik untuk menetapkan suatu tindakan politik yang baik atau pun sebaliknya, yaitu untuk menilai suatu tindakan politik yang tidak baik.
Memang, jika realitas politik bangsa ini kita amati dengan menggunakan kaca mata pandangan tersebut, tentu kita akan memperoleh kesimpulan bahwa ungkapan betapa sukarnya menemukan politik sekarang ini seperti disebut pada awal tulisan ini tidak sepenuhnya berlebihan. Bahkan secara jujur dapat dikatakan mengandung kebenaran yang dalam batas tertentu sukar untuk dibantah. Kenyataannya, kita akan kesukaran menemukan kondisi yang ideal dalam perilaku lahiriah masyarakat dan sosial-politik, yang oleh Imam Syafi`i dilukiskan dalam syairnya sebagai berada dalam situasi dan kondisi zaman al-aughad (zaman edan). Menurut Imam Syafi’i, situasi dan kondisi “zaman edan” ditandai antara lain oleh kebobrokan para penguasa. “Situasi zaman yang mengendalikan para pembesar sehingga mereka menjadi budak zaman. Anda saksikan mereka tunduk di bawah komando selera zaman yang edan.” Celakanya, “kondisi edan” seperti itu telah menjadi realitas politik kontemporer kita.
Secara luas, politik sering dipersepsi sebagai tindakan bijak yang menyeruak ke seluruh sektor kehidupan manusia. Politik selalu dipandang sebagai salah satu aspek mendasar dalam kehidupan manusia. Dengan politik manusia dapat menata seluruh kehidupan bersama secara lebih manusiawi. Dengan politik pula manusia dapat mewujudkan kesejahteraan hidupnya. Artinya jangkauan wilayah politik begitu luas, seluas kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, dalam mengarungi kehidupan ini, kita mengenal berbagai istilah yang dinisbatkan kepada politik. Dari mulai politik ekonomi, politik pemerintahan, politik pendidikan, sampai ke politik kebudayaan.
Kendati demikian, kenyataan sekarang ini menunjukkan bahwa kita nyaris tidak menemukan politik di dalam bidang-bidang kehidupan itu, sekalipun di bidang yang sarat dengan nuansa politiknya. Yang tampil ke permukaan adalah prilaku politik yang tidak mencerminkan politik. Akibatnya, di jagat politik nyaris tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Ia dipersepsi sebagai seni dari berbagai kemungkinan. Bahkan adigium dalam politik, ”tidak ada kawan yang sejati dan tidak ada lawan yang permanen, yang abadi adalah kepentingan”, telah dipraktikkan secara nyata hingga menjadi realitas politik. Akibatnya, yang semula menjadi kawan akan menjadi lawan, dan yang semula menjadi lawan berubah menjadi kawan.
Dengan demikian, politik telah kehilangan nilainya yang luhur, yaitu moralitas. Salah satu refleksi lekatnya moralitas dalam jagat politik tampak pada adigium ”politik itu memberi, bukan menerima”. Bahkan di dunia politik sekarang ini ada kecenderungan terjadi pelanggaran integritas moral secara besar-besaran. Sedangkan hakikat pelanggaran integritas moral adalah pengkhianatan terhadap politik. Jangan berharap akan lahir keluhuran makna politik jika elite politik, para politisi, dan para pemimpin pergerakan tidak mengenal integritas moral dan melakukan pengkhianatan.
Bahkan di lembaga-lembaga yang sangat politiis sekalipun, di mana para politisi memutuskan keputusan-keputusan yang bersifat politis seperti di badan-badan legislatif, ekskutif, dan bahkan di partai-partai politik, politik dalam maknanya yang luhur tidak hadir. Tampaknya akan sia-sia saja bila kita terus berusaha mencarinya. Faktor penyebab fundamentalnya, antara lain ialah terpelantingnya politik dari maknanya yang sejati dari bidang-bidang kehidupan itu. Akibatnya, banyak kalangan yang secara sinis mengatakan bahwa realitas politik kita sudah mati terbunuh di tangan para politisinya.
(Bersambung...)
Browse » Home » » Mencari Politik (1)