“Orang yang masuk ke liang lahad tanpa bekal sama dengan berlayar di laut tanpa kapal.” (Abu Bakar al-Shiddiq Ra)
oOo
Setiap diri akan kembali ke hadirat-Nya Yang Maha Agung di alam keabadian. Liang lahad adalah persinggahan pertama untuk memasuki alam keabadian. Kematian adalah sebuah hukum di mana semua manusia akan menjalaninya dan merupakan ketukan pertama gerbang persinggahan menuju akhir siklus waktu. Sebab dunia yang kita diami ini bukanlah tempat tinggalnya abadi. Di liang lahad semua manusia akan tidur panjang untuk selanjutnya akan dibangkitkan menuju alam keabadian. Ke alam keabadian itulah perjalanan spiritual semua manusia menuju. Ke sana pula kaki kita sedang melangkah dengan pasti. Hari ini, di sini, milik kita. Esok adalah milik kematian. Orang-orang yang “mati” sebelum mati sering berharap dapat lolos dari rahang kematian. Padahal itu sebuah kemustahilan yang tidak ada seorang pun meragukannya. Yahya bin Mu'adz al-Razi melukiskan kebahagiaan orang yang melakukan persiapan sebelum memasuki persinggahan pertamanya, "Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya; berbahagialah orang yang membangun kuburan sebelum ia dimasukkan ke liang kubur; dan berbahagialah orang yang ridha bertemu Rabbnya sebelum ia dipanggil menemui-Nya." Di alam keabadian itulah segala peristiwa eskatologis benar-benar akan dialami oleh setiap manusia: keberuntungan, kerugian, kebangkitan, kegoncangan, timbangan, pertanggungjawaban, kolam, titian, surga, neraka, dan lain-lainnya. Dalam pandangan Islam beriman kepada Allah Swt dengan mengesakan-Nya, mentaati Allah dan Rasul-Nya, yakni merealisasikan perintah-perintah wahyu dan mengaktualisasikan pola-Nya merupakan satu-satunya tangga yang akan mengantarkan perjalanan panjang hidup manusia kepada kemenangan (al-falah) yang sejati dan membuahkan kebahagiaan hakiki yang abadi. Al-Qur`an melukiskannya sebagai berita yang harus disampaikan ke seluruh ummat manusia. “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS, al-Baqarah [2]: 25).
Sebaliknya, orang yang tidak melakukan perintah-perintah-Nya, yakni tidak mematuhi segala aturan dan pola-Nya, berarti tidak memiliki bekal untuk memasuki tempat perisnggahan menuju alam keabadian. Ia akan menerima hukuman, penderitaan, dan kesengsaraan sebagai akibat kegagalan manusia dalam memanfaatkan ruang dan waktu yang dianugerahkan Allah kepadanya; akibat kegagalannya dalam mendayagunakan potensi diri dan kebebasannya secara tepat hingga tak memiliki bekal apapun untuk memasukinya dan menghadap ke hadirat-Nya. “Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.” (QS, Ali ‘Imran [3]: 56). []
Browse » Home » » Bekal Ke Alam Kubur