<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205</id><updated>2011-07-08T10:57:27.258+07:00</updated><title type='text'>Abdi Sumaithi-Menuju Banten yang Maju dan Relijius</title><subtitle type='html'>Kumpulan tulisan dan pemikiran politik, budaya dan Islam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abdi275.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-4317624676504167546</id><published>2009-07-29T11:28:00.002+07:00</published><updated>2009-07-29T11:32:28.030+07:00</updated><title type='text'>Syahwat dan Takabbur</title><content type='html'>"Peluang untuk mendapatkan ampunan (maghfirah) bagi kemaksiatan yang dipicu syahwat, sangat besar sedangkan harapan untuk memperoleh ampunanNya bagi kemaksiatan yang bersumber dari kesombongan, sangat kecil. Sesungguhnya kemaksiatan Iblis berakar pada kesombongan sedangkan ketergelinciran Adam bersumber dari syahwat." (Sufyan al-Tsauri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align ="center"&gt;oOo&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maghfirah, ampunan dari Allah Swt, adalah karunia yang mutlak diperlukan setiap manusia. Tanpa ampunan-Nya manusia akan mengalami kesulitan menemukan jalan kembalinya yang benar. Akibatnya ia akan menjadi bulan-bulanan setan yang karenanya ia akan tenggelam dalam lautan kesesatan. Karena kasih sayang-Nya-lah ampunan itu diberikan kepada seseorang yang dikehendaki-Nya. Dengan ampunan itu ia diperlihatkan kebaikan dan keindahan sifat dan perilakunya serta ditutupi keburukan-keburukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab ia merupakan karunia maka semestinya setiap diri ikut aktif berburu meraihnya. Untuk itu Allah Swt memerintahkan kita agar berlomba-lomba merengkuh maghfirah-Nya, “Berlomba-lombalah kalian mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memiliki karunia yang agung. (QS al-Hadid [57]: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa adalah keburukan. Ia adalah tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Allah Swt. Suatu perbuatan disebut dosa jika memenuhi unsur pelanggaran dan dilakukan dengan kehendak bebasnya, secara sadar, dan atas dasar pilihan bebasnya pula. Sebab setiap manusia memiliki kehendak bebas untuk secara sadar dan otonom memilih sesuatu. Kebebasan memilih inilah yang memastikannya sebagai makhluk moral. Pilihan yang paling mendasar yang ada pada manusia adalah pilihan untuk taat atau tidak taat kepada Allah. Ketika ia dengan kesadaran telah menjatuhkan satu pilihan untuk tidak taat kepada Allah dan diwujudkannya dalam bentuk perbuatan yang melanggar, maka saat itulah ia berdosa. Perbuatan yang dimaksud mencakup segala bentuk pikiran, perkataan, dan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perbuataan dosa yang dilakukan seseorang pasti mempunyai sejumlah implikasi negatif terhadap kondisi psikologis dan sosiologis dirinya. Antara lain dapat mengakibatkan kegelisahan akut dan rusaknya hubungan antarmanusia. Bahkan, jika dosa yang dilakukan suatu bangsa sampai ke tingkat pembangkangan, maka akibatnya bisa jadi bangsa tersebut dilanda kebinasaan. “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS, al-Ankabut [29] : 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi jika seseorang melakukan taubat dan kemudian permohonannya dikabulkan, maka ia akan meraih maghfirah-Nya. Sedangkan esensi tuabat, memohon maghfirah, adalah kesadaran seseorang atas kesalahan tentang masa lalu diri nya. Kesalahan itu baik terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap Tuhannya. Menurut Imam Ghazali, taubat memiliki keterkaitan dengan tiga dimensi waktu sang diri. Keterkaitannya dengan masa lalunya adalah dengan menyesali terhadap kelalaiannya dengan mengqadha jika bisa diqadha. Keterkaitannya dengan masa kininya yaitu dengan meninggalkan dosa kelalaiannya. Sedangkan keterkaitannya dengan masa depan dirinya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan (tidak akan melakukan lagi) dosa yang membuat dirinya kehilangan apa yang dicintainya untuk selama-lamanya. Salah satu wujud otentik maghfirah yang diraihnya ialah menghapus implikasi-implikasi negatif dosa sehingga keburukan-keburukannya terkubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Allah yang menerima dan mengabulkan taubat seseorang. Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat al-Ghaffar (Maha Pengampun). Syekh Ibn Qayyim menegaskan ketakterhinggaan ampunan dan kasih sayang-Nya. Allah berjanji akan menghapus semua akibat buruk dosa orang yang telah bertaubat. Bahkan akan mengganti seluruh keburukan dengan kebaikan. Dia akan menggantikan ketakutan dengan rasa aman, kefakiran dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petunjuk. Firman Allah, “Kecuali orang yang bertobat dan beramal saleh, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QA, al-Furqân: []: 70). Akhirnya taubat akan mengantarkan hamba menjadi kekasih Allah. “Sungguh Allah mencintai orang bertobat dan menyucikan diri (QS, al-Baqarah [2]: 222).&lt;br /&gt;Oleh sebab itu seyogyanya setiap individu membiasakan diri unuk selalu memohon ampunan kepada-Nya atas dosa-dosa yang tampak dan yang tidak tampak. Pembiasaan itu telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, seorang ma’shum, terbebas dari dosa. “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar meminta ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali sehari. (HR al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri seorang mukmin sejati salah satunya serius memohon ampunan dan karenanya tidak pernah meremehkaan sekecil apa pun dosa yang dilakukannya. Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, memberikan perbandingan antara seorang mukmin dan fajir. Terutama, tentang cara mereka menilai sebuah dosa. Beliau Ra berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan runtuh dan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua pemicu utama perbuatan dosa yang dilakukan manusia. Yaitu nafsu syahwat yang tak terkontrol dan kesombongan. Akan sangat berbahaya jika dosa dan kemaksiatan sudah menjadi budaya dikarenakan akan melenyapkan sifat-sifat baik yang melekat pada manusia. Misalnya hilangnya rasa malu. Sedangkan malu merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan. Jika rasa malu hilang, maka lenyaplah kebaikan itu. Nabi Saw bersabda, “Malu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini kaum permisif dan adiktif telah mengobarkan gerakan sosial yang dilandasi kebebasan syahwat melalui jargon kebebasan bereekspresi. Mereka secara masif menggalakkan berbagai jenis kemaksiatan. Mulai dari seks bebas hetero dan homo, persetubuhan di dunia maya melalui hubungan telepon dan situs-situas porno, hingga mengisap nikotin dan mengkonsumsi narkoba. Hal itu jelas menunjukkan kecenderungan manusia modern untuk memperturutkan hawa nafsunya. Sedangkan kecenderungan hawa nafsu selalu mengarahkan sang dirri kepada dosa “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan.” (QS Yusuf [12]: 53).&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Hazm, jika nafsu syahwat berhasil mengalahkan akal, ia akan diselimuti awan kegelapan. “Hati menjadi buta, dan ia akan setia mengikuti jalan kemungkaran, dan akhirnya terjatuh dalam jurang kehinaan.” Selanjutnya akan menuhankan hawa nafsunya. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya(QS al-Jaatsiyah [45]: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, dosa kemaksiatan yang dipicu oleh hawa nafsu peluang memperoleh ampunan Allah, jika pelakunya mau bertaubat, sangatlah terbuka. Berbeda dengan kemaksiatan yang dilandasi oleh kesombongan. Orang yang melakukan kemaksiatan atas dasar kesombongannya sangat kecil akan memperoleh ampunan Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya memendam sebiji sawi dari sifat sombong." Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya seorang laki-laki menginginkan pakaian dan sandalnya bagus.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia menyukai keindahan. Takabbur itu menolak kebenaran dan menghinakan manusia.” (HR, Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tersirat apa yang dikemukakan Rasulullah Saw tersebut mengingatkan bahwa sombong atau takabbur, yang didefinisikan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai sikap menolak kebenaran dan menghina manusia, akan menjadi tabir pemisah antara seorang hamba dengan surga di akhirat nanti. Sebab kesombongan itu, seperti diungkapkan Imam Ghazali, merupakan penghalang antara seorang hamba dengan berbagai akhlak mulia selama di dunianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takabbur atau sombong, dalam makna generiknya semakna dengan ta'azhzum, yakni menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya, merasa agung dan besar, adalah lawan kata dari tawaddu' atau rendah hati. Para ulama mengategorikannya sebagai salah satu jenis penyakit hati. Banyak manusia yang telah menjadi mangsa penyakit hati ini. Allah Swt berfirman, yang artinya, "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku." (QS, al-A'raf [7]: 146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit hati tersebut umumnya dipicu oleh kesalahan persepsi tentang keberadaan dirinya. Bahwa dirinya memiliki keunggulan yang melakat dalam asal kejadiannya atau dalam etnisitasnya. Iblis menjadi sombong karena merasa asal usul kejadiannya dari bahan yang mulia, yaitu api. Berbeda dengan manusia yang bahannya dari lumpur yang hina. “Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah"(QS, al-A’raf [7]: 12.). Orang yahudi juga menjadi sombong karena dirinya secara etnis memiliki keunggulan. “Kami adalah bangsa pilihan Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan persepsi dasar tentang dirinya itu kemudian melahirkan sejumlah sikap yang salah pula yang menyebabkan skala kesombongan semakin meluas. Antara lain menimbulkan kekacauan dalam penilaian dan tolak ukur kemuliaan manusia seperti pandangan kemuliaan seseorang terletak pada harta kekayaan yang dimilikinya, meskipun dia itu ahli maksiat. "Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (dari pada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab. Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehandi-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang di kehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." (QS, Saba' [34]: 35-37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kesombongan semakin mengkristal pada diri seseorang, maka takabbur -merasa lebih tinggi dari hamba-hamba Allah yang lain- akan semakin membumbung. Ia akan sampai ke tingkat merasa dirinya suci. “Janganlah kamu sekalian mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS, al-Najm [53]: 32). Akibatnya, secara sadar atau tidak sadar, ia telah melampaui batas hingga menempatkan dirinya pada posisi Tuhan. Orang seperti ini tentu layak dikenai hukuman berat, yang antara lain menjadi terhalang dapat memasuki surganya. Sebab Allah Swt menyatakan, “Kemuliaan adalah pakaian-Ku dan kebebsaran adalah selendang-Ku. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyaingi-Ku dalam salah satunya maka Aku akan menyiksanya.” (HR, Muslim). Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-4317624676504167546?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4317624676504167546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4317624676504167546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/syahwat-dan-takabbur_29.html' title='Syahwat dan Takabbur'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-8587885760824071208</id><published>2009-07-29T10:24:00.003+07:00</published><updated>2009-07-29T11:24:00.504+07:00</updated><title type='text'>Daftar isi</title><content type='html'>Seri Penetrasi Iblis&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan.html"&gt;PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_29.html"&gt;PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (2), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_4539.html"&gt;PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (3), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_745.html"&gt;PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (4), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis&lt;/a&gt;  &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_1267.html"&gt;PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (5), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_7491.html"&gt;PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (6), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_4939.html"&gt;PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (7), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Seri Cinta&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/cinta-yang-menggelapkan-dan-cinta-yang_29.html"&gt;Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/cinta-yang-menggelapkan-dan-cinta-yang_4240.html"&gt;Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan (2)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Seri Mencari Politik&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-terakhir.html"&gt;Mencari Politik (terakhir)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-1.html"&gt;Mencari Politik (1)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-2.html"&gt;Mencari Politik (2)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-3.html"&gt;Mencari Politik (3)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-4.html"&gt;Mencari Politik (4)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-5.html"&gt;Mencari Politik (5)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-6.html"&gt;Mencari Politik (6)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt; &lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Seri Fitnah&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah.html"&gt;Fitnah&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah-2.html"&gt;Fitnah (2)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah-3.html"&gt;Fitnah (3)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah-4.html"&gt;Fitnah (4)&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/syahwat-dan-takabbur.html"&gt;Syahwat dan Takabbur&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/aset-produktif-itu-bernama-takwa.html"&gt;Aset Produktif Itu Bernama Takwa &lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/ketika-mulia-lagi-bijak-lepas.html"&gt;Ketika Mulia Lagi Bijak Lepas&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/akhir-kesudahan-sang-pemburu.html"&gt;Akhir Kesudahan Sang Pemburu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/yang-menggelapkan-dan-yang-mencerahkan.html"&gt;Yang Menggelapkan dan Yang Mencerahkan Hati&lt;/a&gt; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/harta-dan-amal-shalih.html"&gt;Harta dan Amal Shalih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/agar-hati-selalu-hidup.html"&gt;Agar Hati selalu Hidup&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/bekal-ke-alam-kubur.html"&gt;Bekal Ke Alam Kubur&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/urgensi-keberadaan-ulama-dan-hukama.html"&gt;Urgensi Keberadaan Ulama dan Hukama Dalam Kehidupan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://abdi275.blogspot.com/2009/07/iman-dan-utilitas.html"&gt;Iman dan Utilitas&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-8587885760824071208?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/8587885760824071208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/8587885760824071208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/daftar-isi.html' title='Daftar isi'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-4468070864629774318</id><published>2009-07-29T00:50:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:52:04.250+07:00</updated><title type='text'>Aset Produktif Itu Bernama Takwa</title><content type='html'>"Lisan (lidah) manusia tidak akan kehabisan menyifati keuntungan agama orang yang modal hidupnya taqwa dan sebaliknya lisan manusia juga tidak akan kehabisan menyifati kerugian agama orang yang modal hidupnya dunia." (A`masy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapapun pasti menghendaki keberuntungan dalam setiap transaksi, lebih-lebih transaksi bisnis, dan sebaliknya tidak ada seorang pun yang menghendaki kerugian sekecil apa pun, apatah lagi kerugian keberagamaannya. Dalam satu doa yang diajarkan Rasulullah Saw ditegaskan pentingnya setiap diri memohon kepada Allah Swt agar dikaruniai sikap keberagamaan yang baik. Sebab keberagamaan seseorang merupakan benteng totalitas hidupnya. ”Ya Allah, perbaikilah sikap keberagamaan kami yang akan menjadi benteng urusan kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan, keuntungan dan kerugian sangat ditentukan oleh aset yang dimiliki dan manajemen pengembangannya. Dalam dunia bisnis, sesuatu akan disebut aset jika mempunyai nilai manfaat lebih dibanding biaya yang harus dikeluarkan. Pada umumnya yang disebut aset adalah modal yang kita punyai, baik yang bersifat materiel, fisik kebendaaan seperti tanah dan rumah atau yang bersifat immateriel, nonmateri seperti kemampuan dan pengalaman seseorang dalam bidang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, proses keberagamaan seseorang sangat ditentukan oleh potensi-potensI imateriel yang melekat dan sekaligus menjadi modal bagi kemajuan spiritualnya. ”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”(QS, al-Syams [91]: 8). Secara esensial takwa merupakan “kesadaran Ilahiah” dan “rasa takut kepada Allah Swt” yang makna perluasannya berarti “kesalihan”. Dalam Islam takwa diterjemahkan secara beragam, dari rasa takut kepada Allah, keilahian, kesalihan, prilaku yang benar, kebajikan, hingga penolakan terhadap kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa dalam satu sisi merupakan indikator kematangan keberagamaan seseorang, ”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS, al-Hujurat [49]: 13), dan di sisi lain ia merupakan proses keberagamaan itu sendiri. Yaitu sebuah proses yang menurut al-Ashfahani akan menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti hingga mampu menjaga diri dari segala perbuatan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, takwa adalah aset produktif yang harus dikembangkan melalui upaya “introspeksi” dan “interiorisasi” (takhliyah dan tahliyah) yang dapat meningkatkan kemajuan spiritualitas seseorang. Adalah kewajiban setiap insan untuk selalu bersungguh-sungguh dan terus-menerus menerapkan metode-metode penyucian jiwa yang dapat mengantarkannya kepada kemenangan dan keberuntungan sejati. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu” (QS, al-Syams [91]: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang hanya mengandalkan aset yang bersifat materiel, fisik kebendaaan, secara spiritual dia tidak akan pernah mengalami kemajuan. Bahkan bisa jadi jiwanya dilumpuhkan oleh segala sesuatu yang bersifat sarwa duniawi. Ketika sang jiwa mengalami keletihan maka virus-virus kemaksiatan akan mudah menyerang dan menggerogoti potensialitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya sang diri akan sangat mencintai dunia hingga malas beramal yang mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. Ia melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Padahal sekuat apa pun seseorang mencintai dunia, ia tetap tidak akan mampu menghindar dari kepastian meninggalkannya. Di suatu saat yang telah ditentukan ia pasti akan menemui kematian, sebuah prosesi meninggalkan dunia fana untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu akibat menjadikan dunia sebagai aset utamanya, sang jiwa akan dilumuri kekotoran seperti sikap ingkar (fujur), penyimpangan (fisq), dan penindasan (zhulm) yang menyebabkannya dilanda kerugian dan nestapa. “Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS, al-Syams [91]: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ketakwaan ketiga sifat buruk tersebut akan membobol benteng pertahanan jiwa seseorang. Sebab ketakwaan seorang hamba kepada Allah Swt adalah benteng perlindungan di antara dia dengan yang ditakuti dari kemurkaan dan kemarahan Allah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika benteng perlindungan tersebut bobol, maka banjir maksiat akan melanda sang diri dengan amat dahsyatnya. Gelombang dan kederasan arusnya akan menghantam seluruh aset yang dimilikinya. Akhirnya, banjir maksiat akan menghancurkan semua bangunan keberagamaan yang pernah ditegakkannya. Akibatnya ia mencari-cari perlindungan kepada selain Allah yang menyebabkan dirinya dilanda kerugian dan penyesalan yang berkepanjangan. “Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS, al-Nisa [4]: 119). Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-4468070864629774318?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4468070864629774318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4468070864629774318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/aset-produktif-itu-bernama-takwa.html' title='Aset Produktif Itu Bernama Takwa'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-1891299645649820961</id><published>2009-07-29T00:49:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:50:42.006+07:00</updated><title type='text'>Ketika Mulia Lagi Bijak Lepas</title><content type='html'>“Orang mulia tidak akan durhaka kepada Allah dan orang bijak tidak akan mengutamakan dunia daripada akhirat.”(Yahya bin Mu’adz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pengutamaan dunia daripada akhirat dan prilaku maksiat adalah dua hal yang saling berhubungan. Kemuliaan dan kebijakan seseorang ditentukan sejauh mana dirinya mampu menghindari pengutamaan dunia atas akhirat dan prilaku kemaksiatan. Sebab, di dalam diri orang yang lebih mengutamakaan kehidupan dunia atas akhirat tumbuh kecenderungan yang kuat untuk merengkuh kenikmatan dunia dan mereguknya sepuas-puasnya tanpa mempedulikan akibat-akibatnya. Pemuasan kenikmatan dunia yang tidak terkendali hanya akan membiakkan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhnya sikap lebih mengutamakan dunia atas akhirat dalam diri seseorang bermula dari kecintaannya kepada dunia yang tidak proporsional. “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS, al-Fajr [89]: 20). Akibatnya, di dalam dirinya, terbentuk kecenderungan yang kuat untuk mementingkan urusan duniawi daripada urusan ukhrawi.&lt;br /&gt;Kecenderungan itu kemudian menjadikan jiwanya lelah dikarenakan ia terus-menerus disibukkan oleh dunianya hingga berani meninggalkan kewajiban-kewajiban kemanusiaannya. Bahkan bisa jadi kecenderungannya itu mengkristal hingga membentuk orientasi hidupnya yang sarwa duniawi yang menyebabkan ia dilanda nestapa yang berkepanjangan. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang pada pagi harinya menjadikan dunia ini kepentingannya yang utama, maka Allah akan melazimkan dalam hatinya tiga macam: (1) kerisauan yang tak putus-putusnya untuk selamanya, (2) kesibukan yang tak ada istirahatnya untuk selamanya, dan (3) rasa kefakiran yang tak ada ujungnya untuk selamanya.”(HR, Abu Laits).&lt;br /&gt;Refleksi orientasi duniawi seseorang dapat diamati pada keinginannya yang berkobar-kobar untuk dapat mereguk kenikmatan dunia sepuas-puasnya. Padahal, menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, seperti diungkap kembali dalam kitab Mawa’izh al-Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jailani, “minuman dan biusan dunia telah memabukkan dan memotong tangan dan kaki orang yang menggandrunginya. Ketika biusnya hilang, barulah ia sadar dan dapat melihat apa yang telah dilakukannya kepada dirinya.”&lt;br /&gt;Demi mereguk kenikmatan dunia sepuas-puasnya manusia menggali dan mengembangkan ilmu pengtetahuan. Penggalain dan pengembangan ilmu pengtetahuan yang dilakukannya antara lain melahirkan teknologi yang dapat dijadikan alat dan sarana untuk merealisasikan kepuasannya dan memudahkan urusan hidupnya.&lt;br /&gt;Seiring dengan kemudahan yang diraihnya, manusia semakin mudah pula melakukan eksploitasi kekayaaan alam hingga dirinya menjadi kaya dalam arti materi dan seolah-olah berkuasa atas dunia akan tetapi sejatinya miskin dan tidak berdaya secara nilai. Secara praktis bahkan ia dikendalikan oleh berbagai bentuk struktur ilmiah-tekno-ekonomis dan dicengkeram oleh komputerisasi yang diciptakannya sendiri. Dalam banyak kasus hal itu telah meneggelamkan kemuliaan kemanusiaan serta memusnahkan kebajikan dan kebijakannya.&lt;br /&gt;Memang, penggalian, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekonologi yang tidak etis akan memuaskan nafsu manusia dalam satu sisi namun di sisi lain menenggelamkan kehidupan dalam lumpur kemaksiatan. Pada kenyataannya, teknologi yang tidak dikendalikan secara etis akan melahirkan kerusakan total terhadap alam dan lingkungan. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS, Rum [30]: 41). Selain itu, dan ini yang lebih parah, dapat menghilangkan hakikat manusia itu sendiri, yaitu fithrahnya yang hanif.&lt;br /&gt;Ketika seseorang telah kehilangan martabat dan kemuliaannya, maka kecenderungan melakukan maksiat dan berbuat dosa semakin tidak akan dapat dibendung. Bahkan kemaksiatan akan menjadi arus utamanya yang menyebabkan dirinya, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan kondisi ketidakberdayaan dan kemerosotan kemanusiaan. Akibatnya eksistensinya tidak autentik lagi disebabkan telah kehilangan kemuliaan dan kebijakannya. Sayyidina Ali Ra berkata, "Barangsiapa yang menyembah dunia&lt;br /&gt;dan mengutamakannya di atas akhirat, akan mendapat&lt;br /&gt;akibat yang buruk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasinya setiap diri harus membuka diri bagi suara hatinya yang paling dalam. Suara hati dapat mengingatkan manusia dari kelalainnya terhadap dirinya sehingga ia kembali menjadi manusia yang sejatinya. Allah Swt mengingatkan, "Maka berpalinglah (hai Muham&lt;br /&gt;mad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami,&lt;br /&gt;dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi"&lt;br /&gt;(QS, al-Najm [53]: 29). Iman Syafi’i dalam syairnya mengetuk pintu hati manusia agar kembali menyadari hakikat dunia, tempat kita bergumul sementara, “Wahai orang yang gandrung dunia, ingatlah dunia ini tidak kekal. Sore dan pagi dating silih berganti.” Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-1891299645649820961?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/1891299645649820961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/1891299645649820961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/ketika-mulia-lagi-bijak-lepas.html' title='Ketika Mulia Lagi Bijak Lepas'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-7342611080447899022</id><published>2009-07-29T00:48:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:49:44.728+07:00</updated><title type='text'>Akhir Kesudahan Sang Pemburu</title><content type='html'>"Pahala pencarian seorang pencari ilmu adalah surga dan balasan pencarian seorang pemburu maksiat adalah neraka" (Ali bin Abi Thalib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ilmu, hasil usaha sadar potensi akal manausia untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman terhadap realitas yang diamati secara inderawi dan noninderawi, adalah karunia Allah Swt yang melekat pada penciptaanya. “Dan Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaak.” (QS, al-Baqarah [2]: 31-32).&lt;br /&gt;Meskipun manusia berkemungkinan untuk mencapai pengetahuan universal hingga ia dapat melakukan hubungan total dengan keseluruhan kosmos, seperti tersirat dalam ayat tersebut, namun mengingat manusia memiliki keterbatasan yang melekat kepada dirinya maka tidak ada jaminnan untuk dapat mencapai semua itu. Yah, ilmu memang memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, namun kepastiannya sejalan dengan keterbatasan manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, usaha manusia untuk mencapai keseluruhan itu melalui proses transformasi yang tiada henti-hentinya, menempatkan posisinya secara terhormat dalam tataran makhluk. Iulah yang membuat Adam sampai ke tingkat mengungguli Malaikat. Posisi unggulnya itu jelas dikarenakan di dalam dirinya memantulkan totalitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses transformasi yang dilakukan manusia melalui akalnya, yaitu potensi intrinsiknya yang membedakan dirinya dengan makhluk-makhluk lain, adalah kewajiban fithri yang dapat meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Menurut Ibnu Jauzi, salah satu fungsi akal ialah untuk memahami khithab dan taklif (perintah dan tugas) dari Allah Swt. Dengan cara melakukan transformasi ilmu yang terus-menerus, membebaskan akalnya dari dominasi nafsu, serta memfungskannya secara tepat, manusia dapat mencapai puncak prestasinya yang secara nilai menempati kedudukan yang paling mulia. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS, al-Hujurat [49]: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi meraih puncak prestasi tersebut, seyogyanya setiap diri selalu antusias untuk menuntut ilmu hingga menjadi pemburunya yang tulus. Sebab, kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah dan masyarakat akan disandang oleh orang yang berilmu. "Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. al-Mujadalah: 11)&lt;br /&gt;Imam Al-Zamakhsyari mengutip sejumlah hadits yang menunjukkan keutamaan orang-orang berilmu dari orang-orang yang tidak berilmu. Antara lain sabda Rasulullah Saw, "Jarak antara seorang alim (orang yang berilmu) dan seorang abid (tukang ibadah yang tidak berilmu) adalah seratus derajat/tingkat. Jarak diantara dua tingkat itu adalah perjalanan kuda selama 70 tahun" (HR, Abu Ya'la dan Ibnu Adi).&lt;br /&gt;Al-Quran memberikan berbagai gelar mulia dan terhormat kepada orang berilmu yang menggambarkan kemuliaan dan ketinggian kedudukannya di sisi Allah Swt dan makhluk-Nya. Antara lain sebagai "al-Raasikhun fil Ilm" (QS, Ali Imran [3] : 7), "Ulul al-Ilmi" (QS, Ali Imran [3]: 18), "Ulul al-Bab" (QS, Ali Imran [3]: 190), "al-Basir" dan "as-Sami' " (QS, Hud [11]: 24), "al-A'limun" (QS, al-A'nkabut : 43), "al-Ulama" (QS, Fatir : 28), "al-Ahya' " (QS, Fatir : 35) dan berbagai nama baik dan gelaran mulia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah para ulama menegaskan pekerjaan menuntut ataau memburu ilmu sebagai usaha mulia yang layak memeroleh balasan mulia pula. Seperti dinyatakan oleh Ali bin Abu Thalib di atas, balasan para pemburu ilmu adalah surga, sebuah tempat kembali terbaik bagi manusia yang selama hidupnya di dunia konsisten menunaikan amanah Allah (amanah ibadah dan amanah khilafah) yang telah dibebankan kekapada dirinya, takut kepada-Nya, dan mampu mengendalikan hawa nafsunya. “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS, al-Nazi’at [79]: 40-41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, agar ilmu yang dimilikinya dapat mengantarkan posisi puncak di hadapan Allah Swt, sang pemburu ilmu harus menghiasi dirinya dengan etikanya. Tegasnya, harus dilaksanakan secara etis, baik dalam menuntut, mengembangkan, ataupun dalam memanfaatkannya Antara lain tidak melakukan maksiat dalam pencarian dan pengamalannya. Sebab kemaksiatan akan berimplikasi sangat tragis terhadap pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib paling tragis yang dialami manausia ialah lupa pada esksitensi dirinya sendiri sebagai akibat logis dari sikapnya yang melupakan Allah Swt. Dapat dikatakan, tidak ada pengalaman yang paling menyakitkan dan menghinakan selain orang yang telah kehilangan ma’rifah (pengetahuan) kepada dirinya sendiri. Al-Qur`an memastikan orang yang melupakan dirinya akan mengakibatkan ia terjerembab ke dalam kefasikan. “Dan janganlah kamu seperti orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS, al-Hasyr [59]: 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kefasikan seseorang merupakan refleksi ketidak berdayaan dirinya dalam menahan kobar nafsunya. Kobar nafsu yang diperturutkan itulah yang menyebabkan seseorang berenang di lautan kemaksiatan yang mengakibatkan dirinyaterseret ke dalam api neraka. Sebab orang yang tidak mampu mengendalikan kobar nafsunya, secara pasti, tidak akan mampu bertahan pada pijakan moral, norma, dan tata aturan. Bahkan tindakannya cenderung melanggar setiap aturan sehingga secara praktis dirinya terjerembab ke jurang kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk sikap durhaka atau menentang hak-hak, hukum-hukum atau ketentuan Allah Swt, maksiat sama artinya mengkhianati janji istikhlafnya dan mendegradasi nilai kehambaannya. Tentu saja semua itu berimplikasi buruk terhadap perjalanan hidup dan nasib akhir yang akan diterimanya. Melakukan perbuatan dosa dengan melalaikan larangan-Nya sama artinya dengan membentuk kemanusiaannya menjadi liar yang terus-menerus memburu kemaksiatan. Akhir kesudahan para pemburu kemaksiatan ialah disemayamkan dalam neraka. “Adapaun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, makaa sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (QS, al-Nazi’at [79]: 37-39). Dalam al-Qur`an kedahsyatan neraka dilukiskan dengan menggunakan metafora yang sangat indah dan menggetarkan. Bola-bola apinya yang dahsyat itu digambarkan sebagai iring-iringan unta yang kuning. “Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning.” (QS, al-Mursalat [77]: 32-33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu itu mencerahkan sedangkan maksiat justru menggelapkan. Begitulah pengaruh ilmu terhadap situasi batiniah manusia. Suatu ketika Imam Syafi’i duduk di depan gurunya yang paling dia hormati, Imam Malik. Ketika itu ia membacakan sesuatu yang membuat Imam Malik sangat mengaguminya. Terutama dalam hal kecepatannya menangkap pelajaran, serta kecerdasan dan pemahamannya yang sempurna. Waktu itu Imam Malik berkata, “Aku melihat, Allah Swt telah meletakkan sinar dalam hatimu. Jangan padamkan sinar itu dengan kegelapan maksiat.” Imam Syafi’i menjawab, “Saya mengeluhkan hafalanku yang jelek kepada Waki’. Ia menasehatiku untuk meninggalkan maksiat. Waki’ berkata, ‘Ketahuilah bahwa ilmu itu anugerah dan anugerah Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”&lt;br /&gt;Oleh sebab itu menghindarkan diri menjadi pemburu maksiat langkah tepat agar seseorang terhindar pula dari perburuan yang sia-sia, yang menyebabkan dirinya menderita berkepanjangan. Untuk itu segala pintunya harus ditutup rapat-rapat. Pintu-pintu itu, menurut para ulama, adalah al-lahazhat, pandangan pertama yang memprovokasi syahwat, al-khatharat, pikiran yang melintas di benak yang merupakan awal dari seluruh aktifitas manusia, al-lafazhat, kata-kata atau ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai, dan al-khathawat, langkah nyata untuk melakukan suatu tindakan yang dilarang oleh syariat. Ingat, jika tidak waspada, kemaksiatan sangat mungkin masuk di antara salah satu pintu tersebut. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-7342611080447899022?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7342611080447899022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7342611080447899022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/akhir-kesudahan-sang-pemburu.html' title='Akhir Kesudahan Sang Pemburu'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-3009086034860742791</id><published>2009-07-29T00:47:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:48:37.416+07:00</updated><title type='text'>Yang Menggelapkan dan Yang Mencerahkan Hati</title><content type='html'>“Menggandrungi dunia itu kegelapan hati dan menggandrungi akhirat adalah cahaya hati.” (Utsman bin ‘Affan Ra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang dunia yang kita huni sekarang ini penuh dengan pesona yang menakjubkan. Oleh karena itu manusia cenderung memburunya sampai ke tingkat gelap mata dan gelap hati. "Dunia itu manis lagi hijau." Demikian Nabi Muhammad Saw melukiskan tentang keni'matan dan keindahan dunia yang menjadi fokus perburuan para penganut paham kebendaan.&lt;br /&gt;Menurut Imam Ghazali pesona dunia itu telah menyibukkan hati dan fisik manusia. Menyibukkan hati disebabkan pesonanya yang dapat menarik cinta dan curahan perhatian hati sehingga tidak sedikit orang yang menjadi mabuk karenanya. Menyibukkan fisik karena benda-benda dunia itu memerlukan pengolahan dan pengelolaan untuk kepentingan dirinya atau kepentingan orang lain. Tidak sedikit orang yang terbius oleh pesonanya hingga ia melalaikan akhiratnya.&lt;br /&gt;Keterbiusan itulah yang menjadi penyebab perjalanan hidup sang diri terjerembab ke dalam kegelapan sehingga orang yang memburunya cenderung tidak mengindahkan norma dan tata aturan yang menyebabkannya dirinya tenggelam dalam lumpur kehinaan. Keterbuisan itu pula yang menjadi salah satu kekhawatiran Rasulullah Saw sehubungan dengan melimpahnya gemerlap dunia di kalangan ummat Islam. ”Aku tidak mengkuatirkan kemelaratan menimpa kamu. Akan tetapi yang aku kuatirkan ialah bila kemewahan dunia menimpamu sebagaiman orang-orang yang sebelum kamu ditimpa kemewahan dunia. Lalu kamu berlomba-lomba (dengan kemewahan) dan kamu binasa seperti mereka.” (HR, Muslim).&lt;br /&gt;Agar kita tidak terbius harta sehingga menggelapkan hati, Rasulullah Saw mengingatkan kita untuk memperhatikan proses pencapaiannya. Sebab tidak sedikit orang yang begitu cintanya kepada dunia hingga ia tidak peduli terhadap proses dan segala implikasi kecintaannya itu terhadap situasi kemanusiaannya, terhadap langkah-langkah perjalanannya, dan terhadap akhir perjalanan hidupnya.. "Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)&lt;br /&gt;Oleh sebab pesona dunia itu amat membius maka orang cenderung lupa bahaya yang selalu mengintai di balik pesona yang tersembunyi di medan pemburuannya. Ia juga lupa bahwa di balik gemerlap dan keindahan dunia itu terkandung tanggung jawab yang akan ditanya nanti di hari akhir.&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengingatkan tentang bahaya yang terdapat di medan perburuan harta duniawi. "Memburu harta bagaikan berburu binatang di hutan rimba yang penuh dengan binatang buas atau berenang di lautan yang penuh buaya." Sedangkan orang-orang yang tenggelam dalam kegandrungan dunia mata hatinya menjadi gelap, tak peduli bahaya yang mengancamnya. Ia melihat segala sesuatu dengan mata nafsunya yang menyebabkan mata hatinya diselubungi noda-noda hitam yang pekat sehingga tidak dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara bid'ah dan sunnah, antara yang ma'ruf dan yang munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang terserang krisis persepsi sehingga pandangan dan persepsinya menjadi jungkir balik. Mereka memandang kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kebaikan. Akibatnya hati mereka terus-menerus ditimbuni noda-noda hitam yang menjadi lahan subur bagi pembiakan fitnah hati. Noda-noda hitam inilah yang melumpuhkan fungsi mata hati hingga tak mampu melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, meyakini dan mencintai kehidupan akhirat menjadikan hati seseorang bening dan bercahaya. Imam Ibnu Athailah al-Skandari dalam kata-kata hikmahnya mengatakan, "Allah telah menerangi alam-alam lahiriah ini dengan pengaruh cahaya (atsar) bekas-bekas sifat-sifatNya, dan Dia telah menerangi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati dengan cahaya sifat-sifatNya itu. Karena itu cahaya-cahaya lahiriyah bisa hilang dan lenyap sedangkan cahaya-cahaya hati dan rahasia-rahasianya tidak mungkin hilang dan sirna. Dan karena itulah berkata penyair, “Sesungguhnya matahari siang akan tenggelam di malam hari, Dan matahari hati tidak akan hilang sampai abadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian setiap diri seharusnya mampu menangkap cahaya-cahaya yang dapat mencerahkan hati agar selalu dapat menapaki kehidupan dengan terang benderang. Sesungguhnya hanyalah Allah Swt yang berkenan memberikan cahaya hati kepada setiap manusia. Kendati demikian, akal yang dianugerahkan-Nya kepada setiap manusia dapat dimanfaatkan manusia untuk merenung dan mentadabburi ayat-ayat-Nya sehingga ia memperoleh cahaya. Tafakkur dan tadabbur akan menjadi pemantik api hati nurani manusia sehingga bercahaya. Sebab dengan tafakkur dan tadabbur mansusia mampu menelusuri dan menghayati eksistensi dirinya, mengenal siapa Tuhannya, tahu asal susulnnya dan ke mana ia akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, hatinya tercerahkan oleh suatu kesadaran penuh akan hak-hak yang harus dia tunaikan. Dia juga sadar-sesadarnya bahwa hidup di dunia ini sebagai suatu pengembaraan sementara. Kelak di saat yang telah ditentukan pasti akan kembali ke rumah asalnya, di alam akhirat. Untuk itu ia menyintai tempat kembalinya yang abadi Maka keyakinan dan cinta kepada akhirat adalah cahaya hati yang akan menyebar ke seluruh penjuru kalbu. Abu Thalib al-Makki dalam munajatnya memanjatkan sebuah doa agar diberi cahaya yang dapat menerangi hidupnya. "Ya Allah, berilah aku cahaya dalam kalbuku, cahaya dalam pusaraku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam pandanganku, cahaya dalamperasaanku, cahaya dalam semua jasadku, cahaya di depanku dan di belakangku. Beri aku, kumohon kepada-Mu, cahaya di tangan kananku dan cahaya di tangan kiriku dan cahaya di atasku dan cahaya di bawahku. Ya Allah, tambahlah cahaya dalam diriku dan siramilah aku dengan cahaya dan terangilah aku dengannya."&lt;br /&gt;Bagi orang mencintai kehidupan akhirat semua keraguan dan kebimbangan yang pernah singgah dalam hatinya akan musnah tak bersisa. Yang tinggal hanyalah keyakinan dan cintanya kembali ke kampung akhirat nanti, menghadap Rabb-nya dengan kalbu dan jiwa yang tenang, dan meraih keridhaan-Nya. " Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS, alFajr [89]: 27-30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-3009086034860742791?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/3009086034860742791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/3009086034860742791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/yang-menggelapkan-dan-yang-mencerahkan.html' title='Yang Menggelapkan dan Yang Mencerahkan Hati'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-9071706845060796223</id><published>2009-07-29T00:46:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:47:19.283+07:00</updated><title type='text'>Harta dan Amal Shalih</title><content type='html'>“Kemuliaan dunia itu diperoleh dengan harta sedangkan kemuliaan akhirat diperoleh dengan amal salih.” (Umar bin Khattab)&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua alam ciptaan Allah, alam dunia dan alam akhirat, mutlak berbeda dalam karakteristik dan esensi wujudnya. Walaupun begitu setiap manusia pasti memasuki dan bergumul di dalamnya. Tak seorang pun dapat menghindar dari keberadaan di dalam alam dunia dan alam akhirat. Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun karakteristiknya berbeda, setiap manusia diberikan potensi untuk dapat menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat meraih puncak kesempurnaannya. Meskipun pada kenyataannya sebagian besar manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya secara utuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi. Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah kita jumpai selama hayat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia. Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar. Tidak sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup. Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus ditunaikan. Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.” Bahkan harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci kematian. Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta. Meski demikian, harta selalu menjadi perburuan demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai kemuliaan dalam hidup ini. Di zaman sekarang ini mengejar kekayaan dan meraih kekuasaan materi, seolah telah menjadi mindset dan orientasi hidup, sehingga seringkali untuk mendapatkannya orang tidak peduli lagi memikirkan cara yang benar atau tidak, layak atau tidak layak dengan status sosial dan kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal. Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan. Rasulullah Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” (HR, Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-9071706845060796223?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/9071706845060796223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/9071706845060796223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/harta-dan-amal-shalih.html' title='Harta dan Amal Shalih'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-3406843376604771055</id><published>2009-07-29T00:45:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:46:26.669+07:00</updated><title type='text'>Agar Hati Selalu Hidup</title><content type='html'>“Hendaknya kalian membiasakan terlibat dalam majelis para ulama dan menyimak kata-kata para hukama . Sesungguhnya Allah Swt. menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Ia menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan.” (Rasulullah Saw)&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ulama adalah komunitas manusia yang dengan keluasan ilmu dan integritas moralnya dapat mentransformasikan pengetahuan dan bimbingan masyarakat menuju cita-cita individual dan kolektifnya. Nabi Muhammad Saw melukiskan bergaul dengan orang-orang berilmu dan shalih tak ubahnya seperti berteman dengan penjual minyak wangi. Walaupun kita tidak mendapatkan percikan minyak wanginya secara langsung, namun semerbak wanginya mengharumkan tubuh kita. Oleh sebab itu selalu terlibat dalam majelis-mejelis para ulama dapat memperluas wawasan, memperoleh berbagai ilmu yang mencerahkan pikiran, kalbu, dan aktivitas kita.. Sebab dalam majelis itu tidak sekedar digelar pengajian-pengajian yang bersifat keilmuan yang mencerahkan akal dan pemikiran tetapi juga dipadukan dengan majelis dzikir yang menjadi salah satu makanan ruhani paling bergizi yang dapat mencerahkan kalbu dan spiritual kita. Selain itu kita akan memperoleh keteladanan dari para ulama yang kredibiltas keilmuan dan integritas moralnya diakui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa keberadaan ulama yang memiliki ilmu yang luas dan integritas moral yang tinggi bisa jadi hidup kita akan kehilangan bimbingan yang menyebabkan perjalanannya tersungkur-sungkur dalam kesesatan yang menjeratnya. Posisi penting ulama dilukiskan Rasulullah Saw sebagai "pewaris para nabi". Melalui keberadaan ulama pula kita dapat mengikuti keteladanan Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw mengingatkan betapa kritisnya kehidupan masyarakat yang telah kehilangan ulamanya. "Sesungguhnya Allah Swt tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya lanagsung dari hamba-hamba-Nya melainkan Dia mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, hingga tiada seorang ulama pun yang tertinggal. Akibatnya manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu mereka ditanya tentang masalah agama, maka mereka memberikan fatwanya tanpa pengetahuan, karena itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (HR, Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hukama dengan kata-kata hikmah dan ungkapan-ungkapan bijaknya yang sarat makna terus-menerus memberikan pencerahan spiritual dan menyingkap berbagai selubung kegelapan kalbu, menyingkirkan keraguan dan kebimbangan, serta menghidupkan kembali hati yang telah membeku. "Allah Swt telah menciptakan hati dan menjadikannya sebagai tempat bahkan singgasana yang paling tinggi untuk memahami, mencintai, dan menjalankan iradah-Nya." Begitulah Ibnu Qayyim al-Jauziyah melukiskan posisi hati manusia dalam kitabnya al-Fawa`id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, hati atau kalbu adalah karunia Allah yang sangat bernilai. Hati adalah tempat cahaya Ilahi, rumah bagi kebenaran yang datang dari Allah 'Azza wa Jalla. Di dalamnyalah kesejahteraan yang sejati bersemayam. Dzunnun al-Mishri mengatakan, "Orang yang mengenal Allah akan menjadi orang yang setia, hatinya cerdas, dan amalnya bersih." Oleh sebab itu tanpa pembiasaan menyimak kata-kata hikmah para hukama bisa jadi kegelapan akan bertahta di kalbu seseorang. Sedangkan dalam kalbu yang penuh kegelapan setan akan membangun istananya yang akan menjadi pusat pengendalian seluruh aktivitas dan amal perbuatan syaithaniyah. Dari istana itulah setan mengobarkan nafsu keserakahan yang tidak pernah mengenal akhir dan menghancurkan seluruh tata kehidupan. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-3406843376604771055?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/3406843376604771055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/3406843376604771055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/agar-hati-selalu-hidup.html' title='Agar Hati Selalu Hidup'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-5227343793787680572</id><published>2009-07-29T00:43:00.001+07:00</published><updated>2009-07-29T00:43:49.104+07:00</updated><title type='text'>PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 7</title><content type='html'>Kedelapan, Iblis membelit para pemimpin dan penguasa dengan melakukan penetrasi dengan cara memperindah asumsi-asumsi hingga ke tingkat mengkristalkan anggapan bahwa mereka telah melaksanakan tugas dan kewajiban yang secara kasat mata baik dan bagus. Meskipun jika mereka mau merenunginya lebih dalam terhadap semua perbuatan yang mereka lakukan, niscaya mereka sendiri mendapati banyak sekali penyelewengan. Al-Qasim bin Thalhah bin Muhammad menceriterakan, ”Aku temui Wazir Ali bin Isa sedang mempekerjakan seorang lelaki untuk berkeliling di pasar, khususnya untuk memperhatikan penjual buah anggur. Jika ada orang yang membeli satu bakul anggur yang bisa dibuat arak, ia tidak diganggunya. Akan tetapi jika ada yang membeli dua bakul anggur, di atas anggur itu ditaburi garam supaya tidak dapat dibikin arak. Dia menceriterakan pula bahwa di zaman itu dirinya mendapati para sultan yang melarang ahli nujum duduk di tengah jalan supaya perbuatan menujum tidak tersebar. Dia juga melihat dalam barisan tentara tidak ada seorang pun yang menyimpan anak ”amrad” yang cakep atau berrambut sampai dimulainya pemerintahan kaum ajam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, Iblis memperindah perbuatan mengumpulkan dan mengeluarkan dana yang diperoleh dari hasil cukai yang memberatkan dan merampas harta kekayaan si pengkhianat dengan cara menyuruhnya bersumpah padahal cara yang benar ialah dengan mendirikan bayinah atau saksi atas pengkhianat itu. Umar bin Abdul Aziz berceritera, seorang gubernurnya menulis surat kepadanya yang isinya bahwa di daerahnya banyak orang yang menipu harta Allah. Gubernur itu merasa tidak mampu mengambil apa yang ada di tangan mereka melainkan dengan cara kekerasan. Surat itu kemudian dijawab oleh Umar bin Abdul Aziz, ”Jika mereka nanti di akhirat menjumpai Allah Swt dengan pengkhianatan mereka, dalam pandanganku, adalah lebih baik daripada aku menemui mereka dalam keadaan berdarah-darah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh, Iblis juga melakukan penetrasi dengan cara memperindah anggapan bahwa sedekah para pemimpin dan penguasa yang dikeluarkan dari harta hasil rampasan dan pencurian uang rakyat (korupsi) dapat menghapus dosa korupsi. Oleh Iblis perbuatan sedekah dari hasil uang korupsi itu ditampakkan kepada mereka sebagai perbuatan yang akan menghapus dosa mereka. Iblis membisikkan, ”Sesungguhnya sedekah satu dirham akan menghapus sepuluh dosa perampasan dan pencurian uang rakyat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya hal itu adalah mustahil, sebab dosa merampas hak orang tetap sebagai dosa yang melekat kepada perampas. Sementara itu satu dirham dari sumber uang rampasan (korupsi) yang disedekahkan itu tetap tidak diterima oleh Allah. Andaikan sedekah itu pun dari yang halal, ia tetap tidak dapat menolak dosa perbuatan merampas dan mencuri hak orang lain. Oleh karena itu memberikan sesuatu kepada sang fakir tidak dapat menghapus tanggungan seseorang terhadap hak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebelas, Iblis melakukan penetrasi kepada para pemimpin dan penguasa dengan cara mengobarkan anggapan bahwa kebiasaan mendatangi kaum salihin dan meminta doa mereka, sedangkan mereka tetap bergelimang dosa dan kemaksiatan, dapat meringankan dosa yang dilakukannya. Padahal kunjungan kepada orang-orang salih dan meminta doa mereka tidak dapat menghapus dosa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Husein bin Ziyad menceriterakan, ”Aku pernah mendengar Manik berkata, ”Sekali peristiwa datang seorang pedagang membawa masuk kapal dagangannya, lalu kapal itu ditahan oleh petugas bea cukai dan dia tidak mau melepaskannya. Karena merasa diperlakukan tidak adil, pedagang itu kemudian pergi mendatangi Malik bin Dinar dan melaporkan kejadian itu kepadanya. Kemudian Malik bin Dinar pergi bersama pedagang itu menemui petugas bea cukai tadi. Ketika petugas itu melihat Malik bin Dinar datang, mereka mengatakan, ”Wahai Abu Yahya, beritahu apa keperluan Anda.” Malik menjawab, ”Keperluanku adalah minta pembebasan kapal pedagang ini.” Para petugas bea cikai menjawab, ”Baik, kami akan segera membebaskannya.” Kebetulan sekali di kantor bea cukai tersebut terdapat sekantong uang hasil pungutan liar. Lalu para petugas bea cukai tersebut berkata, ”Wahai Abu Yahya, doakan kami.!” Dijawab oleh Malik bin Dinar, ”Mintalah kepada kantong ini supaya mendoakan kalian. Aku hanya seorang yang mendoakan kalian sedang ada seribu yang lain mendoakan kalian supaya kalian celaka. Apakah kalian menyangka Tuhan akan menerima doa seorang agar kalian menjadi orang baik, sedangkan ada seribu orang lain mendoakan agar kalian celaka.”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua belas, Iblis juga melakukan penetrasi ke dalam pemikiran para birokrat dalam suatu pemerintahan. Mereka biasa melaksanakan semua perintah atasannya meskipun perintah itu sarat dengan muatan kezhaliman terhadap rakyatnya. Para birokrat itu pun biasa melakukan kezhaliman sesuai dengan bunyi perintahnya. Iblis melakukan penetrasi jalan pikiran mereka dengan cara mensugesti mereka bahwa yang mereka lakukan itu semata-mata menurut perntah atasan. Sebagai bawahan memang harus mentaati perintah atasannya. Oleh karena itu yang akan menanggung dosanya adalah sang penguasa, sultan, atau amir yang telah memerintahkan mereka supaya melakukan kezhaliman itu. Dosa kezhaliman yang mereka lakukan tidak akan ditanggung oleh para pelaksana karena posisi mereka semata-mata melaksanakan perintah atasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan seperti itu jelas batil, bagaimana seseorang dapat melepaskan diri dari tanggungjawab atas perbuatannya sedangkan dia juga turut membantu melakukan penindasan, kecurangan, dan penyelewengan? Pokoknya, siapa saja yang membantu orang lain melakukan maksiat, dosanya sama dengan orang yang melakukannya. misalnya, sehubungan dengan masalah minuman keras, Rasulullah Saw mengutuk sebanyak 10 orang yang terlibat di dalamnya. Beliau juga melaknat pemakan riba sama dengan wakilnya, pencatatnya, dan dua orang saksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula halnya seorang petugas pajak yang seluruh hasilnya disetorkan kepada atasan yang diketahui akan digunakan secara boros dan mubazir serta mengkhianati manusia. Mereka akan terkena dosanya meskipun tidak menikmatinya. Tegasnya, si petugas tadi telah menjadi pembantu perilaku kezhaliman tersebut. Dalam sebuah hadits dengan sanad marfu’ kepada Ja’far bin Sulaeman bahwa dia telah berkata, ”Aku mendengar Malik bin Dinar berkata, ”Memadailah seseorang itu dicap pengkhianat apabila dia menjadi pembantu atau pesuruh orang yang berkhianat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah saja yang dapat menunjuki kita ke jalan yang benar.[] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-5227343793787680572?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5227343793787680572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5227343793787680572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_4939.html' title='PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 7'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-2049878532952332376</id><published>2009-07-29T00:41:00.001+07:00</published><updated>2009-07-29T00:42:25.678+07:00</updated><title type='text'>PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 6</title><content type='html'>Ketujuh, Iblis terus memperindah perbuatan para pemimpin dan penguasa supaya selalu bermewah-mewah dalam kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan dosa. Jalan pikiran mereka telah dipenetrasi sedemikian rupa melalui berbagai bisikan berupa asumsi-asumsi. Mereka menganggap kemampuan mereka dalam menciptakan kestabilan, keamanan, dan ketenteraman dapat mencegah mereka dari kemungkinan ditimpa azab dan siksa di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan anggapan tersebut harus ditegaskan di sinia bahwa menjaga keselamatan dan keamanan negara memang salah satu tugas utama pemimpin dan penguasa. Dengan kata lain, untuk itulah seseorang diangkat sebagai pemimpin dan karena itu menjadi tugas yang diwajibkan kepada mereka. Adapun perilaku kemkasiatan yang bergemerlapan itu adalah persoalan lain, yaitu perbuatan yang dilarang agama. Oleh karena itu mereka tidak bisa berharap akan terbebas dari siksa dan pembalasan atas kemaksiatan yang dilakukannya meskipun faktanya mereka mampu menjaga keselamatan dan keamanan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, Iblis membelit para pemimpin dan penguasa dengan melakukan penetrasi dengan cara memperindah asumsi-asumsi hingga ke tingkat mengkristalkan anggapan bahwa mereka telah melaksanakan tugas dan kewajiban yang secara kasat mata baik dan bagus. Meskipun jika mereka mau merenunginya lebih dalam terhadap semua perbuatan yang mereka lakukan, niscaya mereka sendiri mendapati banyak sekali penyelewengan. Al-Qasim bin Thalhah bin Muhammad menceriterakan, ”Aku temui Wazir Ali bin Isa sedang mempekerjakan seorang lelaki untuk berkeliling di pasar, khususnya untuk memperhatikan penjual buah anggur. Jika ada orang yang membeli satu bakul anggur yang bisa dibuat arak, ia tidak diganggunya. Akan tetapi jika ada yang membeli dua bakul anggur, di atas anggur itu ditaburi garam supaya tidak dapat dibikin arak. Dia menceriterakan pula bahwa di zaman itu dirinya mendapati para sultan yang melarang ahli nujum duduk di tengah jalan supaya perbuatan menujum tidak tersebar. Dia juga melihat dalam barisan tentara tidak ada seorang pun yang menyimpan anak ”amrad” yang cakep atau berrambut sampai dimulainya pemerintahan kaum ajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-2049878532952332376?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/2049878532952332376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/2049878532952332376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_7491.html' title='PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 6'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-2160826273304688814</id><published>2009-07-29T00:40:00.001+07:00</published><updated>2009-07-29T00:40:57.137+07:00</updated><title type='text'>PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 5</title><content type='html'>Keenam, memperindah kemewahan dan harta kekayaan negara dalam pandangan pemimpin dan penguasa dengan anggapan semua itu sebagai keberhasilan kepemimpinan dan pemerintahannya. Anggapan itu bisa mengkristal hingga menjadi persepsi bahwa kekayaan yang dihasilkan oleh kepemimpinannya sepenuhnya berada di bawah kekuasaannya. Oleh sebab itu kekayaan negara dapat digunakan sesuka hatinya. Sesungguhnya tipu daya Iblis ini dapat ditangkal dengan mengkiaskan kepada hukum Islam lainnya. Misalnya, hukum hajr, yaitu ketentuan pencegahan penggunaan harta kekayaan ke atas orang yang sangat memboroskan hartanya sendiri. Logikanya, apatah lagi kepada orang yang dikuasakan untuk menjaga harta orang banyak, yaitu pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan lagi, sesuatu yang dihalalkan bagi para pemimpin dan penguasa dari harta negara ialah sekedar gaji dari kerja yang dilakukannya saja. Jadi tidak ada jalan baginya untuk bermewah-mewah dengan harta rakyat. Ibnu ’Aqil berceritera tentang suatu peristiwa yang diceriterakan oleh penyair Hammad. Dia pernah menulis rangkaian bait syair untuk al-Walid bin Yazid bin Muawiyah dan membacakannya di hadapannya. Setelah itu dia diberi hadiah sebanyak 5000 Dinar ditambah dengan dua orang budak perempuan. Syair yang dibacakannya adalah pujian yang menyanjung peribadi al-Walid, padahal syair yang harus dibuat dan dibacakannya di hadapan al-Walid adalah syair yang mencaci keadaannya dikarenakan ia suka memboroskan harta kaum muslimin yang berada di Baitul Mal. Dalam waktu yang sama, Iblis juga coba memperindah perilaku pemimpin dan penguasa dengan cara menahan harta bagi kaum yang sesungguhnya berhak menerimanya dengan alasan takut dimubazirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, Iblis terus memperindah perbuatan para pemimpin dan penguasa supaya selalu bermewah-mewah dalam kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan dosa. Jalan pikiran mereka telah dipenetrasi sedemikian rupa melalui berbagai bisikan berupa asumsi-asumsi. Mereka menganggap kemampuan mereka dalam menciptakan kestabilan, keamanan, dan ketenteraman dapat mencegah mereka dari kemungkinan ditimpa azab dan siksa di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan anggapan tersebut harus ditegaskan di sinia bahwa menjaga keselamatan dan keamanan negara memang salah satu tugas utama pemimpin dan penguasa. Dengan kata lain, untuk itulah seseorang diangkat sebagai pemimpin dan karena itu menjadi tugas yang diwajibkan kepada mereka. Adapun perilaku kemkasiatan yang bergemerlapan itu adalah persoalan lain, yaitu perbuatan yang dilarang agama. Oleh karena itu mereka tidak bisa berharap akan terbebas dari siksa dan pembalasan atas kemaksiatan yang dilakukannya meskipun faktanya mereka mampu menjaga keselamatan dan keamanan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-2160826273304688814?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/2160826273304688814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/2160826273304688814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_1267.html' title='PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 5'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-834799362449494412</id><published>2009-07-29T00:38:00.003+07:00</published><updated>2009-07-29T00:40:02.678+07:00</updated><title type='text'>PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 4</title><content type='html'>Kelima, Iblis memperdaya para pemimpin dan penguasa dengan cara menampakkan kebaikan sehubungan dengan amal yang dilakukan atas dasar pandangan dan pendapat mereka. Akibatnya, dalam memutuskan perkara, mereka cenderung menuruti pandangan dan pendapat peribadi. Hal itu menjadikan mereka mudah memutuskan sesuatu yang tidak sepatutnya mereka putuskan dan bahkan membunuh seseorang yang tidak sepatutnya mereka bunuh.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, untuk memperparah keertipuan mereka, Iblis menanamkan waham (anggapan) kepada para pemimpin dan penguasa, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah politik, bukan urusan syariat. Padahal, anggapan bahwa pelaksanaan syariat baru akan baik jika disertai dengan pendapat peribadi mereka mengandung satu pengertian bahwa “syariat Islam tidak sempurna, dan kekurangsempurnaannya perlu dilengkapi dengan pendapat mereka yang disebut politik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas prasangka seperti itu suatu kekeliruan paling buruk, sebab syariat itu adalah politik Ilahiah yang mustahil terdapat kekurangan yang memerlukan penyempurnaan dari politik manusia. Allah berfirman, ”Tidak Kami (Allah) lalaikan sesuatu apapun di dalam Kitab (al-Qur`an).” (QS, al-An’am [6]: 38). ”Tidak siapa pun yang dapat menolak hukum-Nya.” (QS, al-Ra’ad [13]: 41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi orang yang mengklaim dirinya punya politik jitu, yang dapat menyempurnakan syariat, berarti ia menuduh ada kekurangan dalam syariat. Dalam konteks aqidah, tuduhan seperti ini dapat menyeret kepada kekufuran. Diceriterakan dari ’Adhdu al-Daulah bahwa dirinya sangat tertarik kepada seorang jariah (budak perempuan) sehingga mengganggu pikirannya. Lalu ia memerintahkan kepada seseorang agar menenggelamkannya sampai mati supaya hatinya dapat melupakannya, yang dengan itu ia berharap akan menenteramkan pikirannya sehingga dapat berkonsentrasi mengendalikan urusan pemerintahan dan negara tanpa diganggu oleh hal-hal yang bersifat sangat peribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tindakan seperti itu benar-benar merupakan tindakan gila. Alasannya ialah, membunuh seorang muslim tanpa alasan karena ia telah melakukan pelanggaran hukum yang hukumannya harus dibunuh jelas-jelas tidak dibenarkan. Jika seseorang membenarkan pembunuhan terhadap seorang muslim dengan tanpa alasan hukum dan pembenarannya itu dikaitkan dengan akidah, tentu dapat dikategorikan sebagai kufur. Jika dia masih meyakini bahwa perbuatan seperti itu tidak boleh dilakukan tetapi dia berpendapat mengandung kemaslahatan di dalamnya, ketahuilah bahwa kita tetap dilarang melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan syariat meskipun di dalamnya mengandung kemaslahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-834799362449494412?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/834799362449494412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/834799362449494412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_745.html' title='PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 4'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-5146762011304737096</id><published>2009-07-29T00:37:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:38:15.761+07:00</updated><title type='text'>PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 3</title><content type='html'>Keempat, mendorong agar para pemimpin dan penguasa mengangkat orang-orang yang tidak memiliki kompetensi keilmuan dan katakwaan asalkan taat pada dirinya sebagai pembantu-pembantu dalam menjalankan kekuasaan dan kebijakannya. Akibatnya urusan publik dijalankan oleh orang-orang yang tidak becus. Kondisi itu menyebabkan rakyat menjadi marah. Salah satu bentuk kemarahan rakyat terhadap pemimpinnya yang dipandang salah dalam mengelola kepentingan umum diwujudkan dalam bentuk pembangkangan diam-diam. Antara lain dengan cara memanjatkan doa sebagai orang-orang yang teraniaya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipastikan, para petugas yang tidak memiliki kompetensi keilmuan dan katakwaan akan sembrono dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya, memberi makanan haram dari hasil jual beli yang melanggar syariat dan menghukum orang yang tidak sepatutnya dihukum. Celakanya, para pemimpin dan penguasa yang terpenetrasi oleh tipu daya Iblis beranggapan bahwa dirinya akan terlepas dari tanggungjawab di hadapan Allah atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pembantunya yang tidak berkompeten. Alasan yang dijadian pegangan ialah karena mereka secara formal telah resmi diangkat sebagai petugas dengan satu keyakinan bahwa para petugas itu akan bertangungjawab sendiri atas perbuatannya. Jelas, pandangan ini sangat keliru. Bukankah jika seoraang pemimpin dan penguasa melantik orang fasik untuk membagikan zakat, lalu zakat itu diselewengkannya dari jalan yang banar, mereka akan tetap dimintai pertanggungjawaban dan harus menggantinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-5146762011304737096?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5146762011304737096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5146762011304737096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_4539.html' title='PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 3'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-8803983323168557998</id><published>2009-07-29T00:36:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:37:10.408+07:00</updated><title type='text'>PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - lanjutan</title><content type='html'>Kedua, Iblis membius para pemimpin dan penguasa dengan pujian secara tidak langsung. Ia seolah-olah menegaskan kembali bahwa sejatinya setiap kekuasaan membutuhkan haibah (martabat, kharisma, dan personalitas yang hebat). Tanpa haibah tak mungkin seseorang akan menjadi pemimpin atau penguasa sejati. Jika pemimpin atau penguasa terbuai oleh pujian itu, akan berimplikasi sangat luas bagi kondisi kejiwaannya. Antara lain dapat membentuk dirinya menjadi orang takabbur (snob), enggan menuntut ilmu, dan tidak mau duduk-duduk di majelis para ulama. Lebih jauh, sikap seperti itu mendorng mereka selalu bersandar kepada pemikiran dan pandangan mereka sendiri dalam melakukan sesuatu. Akibatnya, sungguh sangat fatal, sampai ke tingkat merusak agama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab kerusakan itu ialah menyangut tabiat manusia, yaitu kecenderungan menyesuaikan diri dengan perilaku orang sekelompoknya. Memang salah satu tabiat manusia cenderung bersikap conformity dengan kelompoknya. Ia akan berusaha menyesuaikan diri dan meniru tabiat dan perilaku orang yang biasa duduk bersama (kelompok). Hal itu dilakukan agar dirinya tetap diakui sebagai kelompoknya. Oleh karena itu jika seseorang biasa bercampur dengan orang-orang yang mementingkan keduniaan dan bodoh dalam urusan agama, niscaya dia akan meniru tabiat dan perilaku mereka. Dia akan menerima segala macam pengaruh yang ditimbulkannya tanpa ada upaya penentangan dan pencegahannya, bahkan ia terus berupaya menyesuaikan diri dengan perilaku kelompoknya. Semua itulah yang menyebabkan dirinya terseret ke dalam kebinasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Iblis mendorong para pemimpin dan penguasa agar memiliki sikap paranoid yang kental dengan cara melakukan penetrasi melalui bisikan bahwa mereka telah dikepung ancaman musuh. Bagi para pemimpin dan penguasa yang tertipu oleh bisikan semacam itu, mereka pasti akan mengetatkan pengawasan dan berusaha habis-habisan untuk melindungi diri mereka. Dengan cara itu mereka berharap agar orang-orang yang marah karena teraniaya oleh kepemimpinan dan kekuasaan mereka tidak dapat menyentuhnya. Sementara, mereka tidak pernah memperhatikan dan menyelesaikan problem yang dihadapi orang-orang yang teraniaya itu. Abu Maryam al-Asadi meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, ”Siapa yang diberikan kekuasaan oleh Allah Swt untuk mengendalikan urusan kaum muslimin, lalu dia mengelak dari tanggungjawab menyelesaikan urusan, keperluan, dan kefakiran mereka, kelak Allah tidak akan memperhatikan kebutuhan, keperluan, dan kefakiran mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-8803983323168557998?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/8803983323168557998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/8803983323168557998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan_29.html' title='PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - lanjutan'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-7152852286709378357</id><published>2009-07-29T00:33:00.001+07:00</published><updated>2009-07-29T00:36:04.054+07:00</updated><title type='text'>PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis</title><content type='html'>Para pemimpin dan penguasa juga tak luput jadi obyek penetrasi Iblis. Penetrasi diarahkan untuk mempengaruhi pandangan, sikap, kebijakan, dan perilaku mereka, dan dilakukan dengan berbagai cara tipu daya yang sangat halus sehingga tidak sedikit di antara mereka yang terjerumus ke dalam penyimpangan dan kesesatan. Penulis (Ibnu al-Jauzi) menyebut 12 langkah penetrasi yang menjadi induknya, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Iblis membisiki para pemimpin dan penguasa dengan cara meyakinkan kepada mereka, bahwa Allah Swt telah mengutamakan dan mencintai diri mereka. Kalaulah bukan karena kecintaan-Nya, tentu siapapun tidak akan ditakdirkan menjadi pemimpin atau penguasa serta tidak akan menjadi representasi Allah Swt di tengah hamba-hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan, apakah seorang pemimpin atau penguasa telah terpenetrasi oleh Iblis atau tidak, lihatlah perilaku mereka. Jika mereka benar-benar orang yang diutamakan dan dicintai Allah Swt, tentu akan konsisten menjalankan syariat-Nya dan mencari keridhaan-Nya yang menyebabkan diri mereka dicintai-Nya. Sebaliknya, jika perilakunya tidak konsisten menjalankan syariat Allah, dapat dipastikan hal itu menjadi indikator bahwa dia adalah orang yang tidak dicintai Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Swt memberikan kepemimpinan dan kekuasaan kepada siapa saja, sekalipun kepada orang-orang yang dibenci-Nya. Sama halnya pintu-pintu kekayaan duniawi juga dibukakan kepada siapa saja, termasuk orang-orang yang karena keyakinan, sikap, dan perilakunya menyebabkan mereka tidak dipedulikan dan diacuhkan oleh-Nya. Bahkan kepemimpinan dan kekuasaan diberikan pula kepada seseorang atau sekelompok orang yang menguasai, menindas, dan membunuhi para wali (kekasih) Allah dan hamba-hamba-Nya yang salih. Walaupun begitu, kepemimpinan dan kekuasaan yang dimiliki pemimpin dan penguasa jahat masuk dalam kerangka penangguhan atas azab yang akan diterima mereka di akhirat sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, “Kami (Allah) menangguhkan bagi mereka supaya merea bertambah dosa.” (QS, Ali ‘Imran [3]: 178).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Iblis membius para pemimpin dan penguasa dengan pujian secara tidak langsung. Ia seolah-olah menegaskan kembali bahwa sejatinya setiap kekuasaan membutuhkan haibah (martabat, kharisma, dan personalitas yang hebat). Tanpa haibah tak mungkin seseorang akan menjadi pemimpin atau penguasa sejati. Jika pemimpin atau penguasa terbuai oleh pujian itu, akan berimplikasi sangat luas bagi kondisi kejiwaannya. Antara lain dapat membentuk dirinya menjadi orang takabbur (snob), enggan menuntut ilmu, dan tidak mau duduk-duduk di majelis para ulama. Lebih jauh, sikap seperti itu mendorng mereka selalu bersandar kepada pemikiran dan pandangan mereka sendiri dalam melakukan sesuatu. Akibatnya, sungguh sangat fatal, sampai ke tingkat merusak agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor penyebab kerusakan itu ialah menyangut tabiat manusia, yaitu kecenderungan menyesuaikan diri dengan perilaku orang sekelompoknya. Memang salah satu tabiat manusia cenderung bersikap conformity dengan kelompoknya. Ia akan berusaha menyesuaikan diri dan meniru tabiat dan perilaku orang yang biasa duduk bersama (kelompok). Hal itu dilakukan agar dirinya tetap diakui sebagai kelompoknya. Oleh karena itu jika seseorang biasa bercampur dengan orang-orang yang mementingkan keduniaan dan bodoh dalam urusan agama, niscaya dia akan meniru tabiat dan perilaku mereka. Dia akan menerima segala macam pengaruh yang ditimbulkannya tanpa ada upaya penentangan dan pencegahannya, bahkan ia terus berupaya menyesuaikan diri dengan perilaku kelompoknya. Semua itulah yang menyebabkan dirinya terseret ke dalam kebinasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Iblis mendorong para pemimpin dan penguasa agar memiliki sikap paranoid yang kental dengan cara melakukan penetrasi melalui bisikan bahwa mereka telah dikepung ancaman musuh. Bagi para pemimpin dan penguasa yang tertipu oleh bisikan semacam itu, mereka pasti akan mengetatkan pengawasan dan berusaha habis-habisan untuk melindungi diri mereka. Dengan cara itu mereka berharap agar orang-orang yang marah karena teraniaya oleh kepemimpinan dan kekuasaan mereka tidak dapat menyentuhnya. Sementara, mereka tidak pernah memperhatikan dan menyelesaikan problem yang dihadapi orang-orang yang teraniaya itu. Abu Maryam al-Asadi meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, ”Siapa yang diberikan kekuasaan oleh Allah Swt untuk mengendalikan urusan kaum muslimin, lalu dia mengelak dari tanggungjawab menyelesaikan urusan, keperluan, dan kefakiran mereka, kelak Allah tidak akan memperhatikan kebutuhan, keperluan, dan kefakiran mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-7152852286709378357?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7152852286709378357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7152852286709378357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/penetrasi-iblis-kepada-pemimpin-dan.html' title='PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-29629478511650725</id><published>2009-07-29T00:31:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:33:06.730+07:00</updated><title type='text'>Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan (2)</title><content type='html'>Oleh sebab pesona dunia itu amat membius maka orang cenderung memburunya dengan penuh ambisi. Ia lupa bahaya yang selalu mengintai di balik pesona yang tersembunyi di medan pemburuannya. Ia juga lupa bahwa di balik gemerlap dan keindahan dunia itu terkandung tanggung jawab yang akan ditanya nanti di hari akhir. "Sesungguhnya Allah Swt menjadikan kalian khalifah di dalamnya, lalu Dia akan melihat apa yang kalian lakukan." (AL Hadits)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengingatkan tentang bahaya yang terdapat di medan perburuan harta duniawi. "Memburu harta bagaikan berburu binatang di hutan rimba yang penuh dengan binatang buas atau berenang di lautan yang penuh buaya." Sedangkan orang-orang yang tenggelam dalam kegandrungan dunia mata hatinya menjadi gelap, tak peduli bahaya yang mengancamnya. Ia melihat segala sesuatu dengan mata nafsunya yang menyebabkan mata hatinya diselubungi noda-noda hitam yang pekat sehingga tidak dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara bid'ah dan sunnah, antara yang ma'ruf dan yang munkar. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang terserang krisis persepsi sehingga pandangan dan persepsinya menjadi jungkir balik. Mereka memandang kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kebaikan. Akibatnya hati mereka terus-menerus ditimbuni noda-noda hitam yang menjadi lahan subur bagi pembiakan fitnah hati. Noda-noda hitam inilah yang melumpuhkan fungsi mata hati hingga tak mampu melihat. Meyakini dan mencintai kehidupan akhirat menjadikan hati seseorang bening dan bercahaya. Dengan keyakinan dan cintanya cahaya akan menyebar ke seluruh penjuru kalbu. Abu Thalib al-Makki dalam munajatnya memanjatkan sebuah doa agar diberi cahaya yang dapat menerangi hidupnya. "Ya Allah, berilah aku cahaya dalam kalbuku, cahaya dalam pusaraku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam pandanganku, cahaya dalamperasaanku, cahaya dalam semua jasadku, cahaya di depanku dan di belakangku. Beri aku, kumohon kepada-Mu, cahaya di tangan kananku dan cahaya di tangan kiriku dan cahaya di atasku dan cahaya di bawahku. Ya Allah, tambahlah cahaya dalam diriku dan siramilah aku dengan cahaya dan terangilah aku dengannya."&lt;br /&gt;Bagi orang mencintai kehidupan akhirat semua keraguan dan kebimbangan yang pernah singgah dalam hatinya akan musnah tak bersisa. Yang tinggal hanyalah keyakinan dan cintanya kembali ke kampung akhirat nanti, menghadap Rabb-nya dengan kalbu dan jiwa yang tenang, dan meraih keridhaan-Nya. " Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS, alFajr [89]: 27-30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-29629478511650725?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/29629478511650725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/29629478511650725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/cinta-yang-menggelapkan-dan-cinta-yang_4240.html' title='Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan (2)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-5043800047890049315</id><published>2009-07-29T00:29:00.002+07:00</published><updated>2009-07-29T00:31:26.475+07:00</updated><title type='text'>Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan</title><content type='html'>“Menggandrungi dunia itu kegelapan hati dan menggandrungi akhirat adalah cahaya hati.” (Utsman bin ‘Affan Ra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang dunia yang kita huni sekarang ini penuh dengan pesona yang menakjubkan. Oleh karena itu manusia cenderung memburunya sampai ke tingkat gelap mata. "Dunia itu manis lagi hijau." Demikian Nabi Muhammad Saw melukiskan tentang keni'matan dan keindahan dunia yang menjadi fokus perburuan para penganut paham kebendaan. Menurut Imam Ghazali pesona dunia itu menyibukkan hati dan fisik manusia. Menyibukkan hati disebabkan pesonanya yang dapat menarik cinta dan curahan perhatian hati sehingga tidak sedikit orang yang menjadi mabuk karenanya. Menyibukkan fisik karena benda-benda dunia itu memerlukan pengelolaan untuk kepentingan dirinya atau kepentingan orang lain. Tidak sedikit orang yang terbius oleh pesonanya hingga ia melalaikan akhiratnya. Keterbiusan inilah yang menjadi penyebab perjalanan hidup sang diri terjerembab ke dalam lumpur kehinaan. Keterbuisan ini pula yang menjadi salah satu kekhawatiran Rasulullah Saw sehubungan dengan melimpahnya gemerlap dunia di kalangan ummat Islam. "Sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan dari kalian sepeninggalku ialah gemerlap dan perhiasan dunia yang dibukakan untuk kalian." (HR, )&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang yang begitu cintanya kepada dunia hingga ia tidak peduli segala implikasi kecintaannya itu terhadap situasi kemanusiaannya, terhadap langkah-langkah perjalanannya, dan terhadap akhir perjalanan hidupnya. Rasulullah Saw mengingatkan kepada kita meskipun dunia ini penuh pesona namun kita tidak boleh terbius hingga kita melupakan norma dan tata nilai dalam mencari, mengkunsumsi, dan menggunakannya. Peringatan Rasulullah Saw terhadap pesona dunia itu diabadikannya dalam sabdanya, "Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-5043800047890049315?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5043800047890049315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5043800047890049315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/cinta-yang-menggelapkan-dan-cinta-yang_29.html' title='Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-42803186156402278</id><published>2009-07-29T00:29:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:30:56.306+07:00</updated><title type='text'>Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan</title><content type='html'>“Menggandrungi dunia itu kegelapan hati dan menggandrungi akhirat adalah cahaya hati.” (Utsman bin ‘Affan Ra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang dunia yang kita huni sekarang ini penuh dengan pesona yang menakjubkan. Oleh karena itu manusia cenderung memburunya sampai ke tingkat gelap mata. "Dunia itu manis lagi hijau." Demikian Nabi Muhammad Saw melukiskan tentang keni'matan dan keindahan dunia yang menjadi fokus perburuan para penganut paham kebendaan. Menurut Imam Ghazali pesona dunia itu menyibukkan hati dan fisik manusia. Menyibukkan hati disebabkan pesonanya yang dapat menarik cinta dan curahan perhatian hati sehingga tidak sedikit orang yang menjadi mabuk karenanya. Menyibukkan fisik karena benda-benda dunia itu memerlukan pengelolaan untuk kepentingan dirinya atau kepentingan orang lain. Tidak sedikit orang yang terbius oleh pesonanya hingga ia melalaikan akhiratnya. Keterbiusan inilah yang menjadi penyebab perjalanan hidup sang diri terjerembab ke dalam lumpur kehinaan. Keterbuisan ini pula yang menjadi salah satu kekhawatiran Rasulullah Saw sehubungan dengan melimpahnya gemerlap dunia di kalangan ummat Islam. "Sesungguhnya di antara hal yang aku takutkan dari kalian sepeninggalku ialah gemerlap dan perhiasan dunia yang dibukakan untuk kalian." (HR, )&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang yang begitu cintanya kepada dunia hingga ia tidak peduli segala implikasi kecintaannya itu terhadap situasi kemanusiaannya, terhadap langkah-langkah perjalanannya, dan terhadap akhir perjalanan hidupnya. Rasulullah Saw mengingatkan kepada kita meskipun dunia ini penuh pesona namun kita tidak boleh terbius hingga kita melupakan norma dan tata nilai dalam mencari, mengkunsumsi, dan menggunakannya. Peringatan Rasulullah Saw terhadap pesona dunia itu diabadikannya dalam sabdanya, "Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-42803186156402278?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/42803186156402278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/42803186156402278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/cinta-yang-menggelapkan-dan-cinta-yang.html' title='Cinta Yang Menggelapkan dan Cinta Yang Mencerahkan'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-6636373394934029333</id><published>2009-07-29T00:28:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:29:49.825+07:00</updated><title type='text'>Bekal Ke Alam Kubur</title><content type='html'>“Orang yang masuk ke liang lahad tanpa bekal sama dengan berlayar di laut tanpa kapal.” (Abu Bakar al-Shiddiq Ra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap diri akan kembali ke hadirat-Nya Yang Maha Agung di alam keabadian. Liang lahad adalah persinggahan pertama untuk memasuki alam keabadian. Kematian adalah sebuah hukum di mana semua manusia akan menjalaninya dan merupakan ketukan pertama gerbang persinggahan menuju akhir siklus waktu. Sebab dunia yang kita diami ini bukanlah tempat tinggalnya abadi. Di liang lahad semua manusia akan tidur panjang untuk selanjutnya akan dibangkitkan menuju alam keabadian. Ke alam keabadian itulah perjalanan spiritual semua manusia menuju. Ke sana pula kaki kita sedang melangkah dengan pasti. Hari ini, di sini, milik kita. Esok adalah milik kematian. Orang-orang yang “mati” sebelum mati sering berharap dapat lolos dari rahang kematian. Padahal itu sebuah kemustahilan yang tidak ada seorang pun meragukannya. Yahya bin Mu'adz al-Razi melukiskan kebahagiaan orang yang melakukan persiapan sebelum memasuki persinggahan pertamanya, "Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya; berbahagialah orang yang membangun kuburan sebelum ia dimasukkan ke liang kubur; dan berbahagialah orang yang ridha bertemu Rabbnya sebelum ia dipanggil menemui-Nya." Di alam keabadian itulah segala peristiwa eskatologis benar-benar akan dialami oleh setiap manusia: keberuntungan, kerugian, kebangkitan, kegoncangan, timbangan, pertanggungjawaban, kolam, titian, surga, neraka, dan lain-lainnya. Dalam pandangan Islam beriman kepada Allah Swt dengan mengesakan-Nya, mentaati Allah dan Rasul-Nya, yakni merealisasikan perintah-perintah wahyu dan mengaktualisasikan pola-Nya merupakan satu-satunya tangga yang akan mengantarkan perjalanan panjang hidup manusia kepada kemenangan (al-falah) yang sejati dan membuahkan kebahagiaan hakiki yang abadi. Al-Qur`an melukiskannya sebagai berita yang harus disampaikan ke seluruh ummat manusia. “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS, al-Baqarah [2]: 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, orang yang tidak melakukan perintah-perintah-Nya, yakni tidak mematuhi segala aturan dan pola-Nya, berarti tidak memiliki bekal untuk memasuki tempat perisnggahan menuju alam keabadian. Ia akan menerima hukuman, penderitaan, dan kesengsaraan sebagai akibat kegagalan manusia dalam memanfaatkan ruang dan waktu yang dianugerahkan Allah kepadanya; akibat kegagalannya dalam mendayagunakan potensi diri dan kebebasannya secara tepat hingga tak memiliki bekal apapun untuk memasukinya dan menghadap ke hadirat-Nya. “Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.” (QS, Ali ‘Imran [3]: 56). []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-6636373394934029333?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/6636373394934029333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/6636373394934029333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/bekal-ke-alam-kubur.html' title='Bekal Ke Alam Kubur'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-1498733119058758894</id><published>2009-07-29T00:27:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:28:45.133+07:00</updated><title type='text'>Urgensi Keberadaan Ulama dan Hukama Dalam Kehidupan</title><content type='html'>“Hendaknya kalian membiasakan terlibat dalam majelis para ulama dan menyimak kata-kata para hukamaSesungguhnya Allah Swt. menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Ia menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan.” (Rasulullah Saw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ulama adalah komunitas manusia yang dengan keluasan ilmu dan integritas moralnya dapat mentransformasikan pengetahuan dan bimbingan masyarakat menuju cita-cita individual dan kolektifnya. Nabi Muhammad Saw melukiskan bergaul dengan orang-orang berilmu dan shalih tak ubahnya seperti berteman dengan penjual minyak wangi. Walaupun kita tidak mendapatkan percikan minyak wanginya secara langsung, namun semerbak wanginya mengharumkan tubuh kita. Oleh sebab itu selalu terlibat dalam majelis-mejelis para ulama dapat memperluas wawasan, memperoleh berbagai ilmu yang mencerahkan pikiran, kalbu, dan aktivitas kita.. Sebab dalam majelis itu tidak sekedar digelar pengajian-pengajian yang bersifat keilmuan yang mencerahkan akal dan pemikiran tetapi juga dipadukan dengan majelis dzikir yang menjadi salah satu makanan ruhani paling bergizi yang dapat mencerahkan kalbu dan spiritual kita. Selain itu kita akan memperoleh keteladanan dari para ulama yang kredibiltas keilmuan dan integritas moralnya diakui. Tanpa keberadaan ulama yang memiliki ilmu yang luas dan integritas moral yang tinggi bisa jadi hidup kita akan kehilangan bimbingan yang menyebabkan perjalanannya tersungkur-sungkur dalam kesesatan yang menjeratnya. Posisi penting ulama dilukiskan Rasulullah Saw sebagai "pewaris para nabi". Melalui keberadaan ulama pula kita dapat mengikuti keteladanan Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw mengingatkan betapa kritisnya kehidupan masyarakat yang telah kehilangan ulamanya. "Sesungguhnya Allah Swt tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya lanagsung dari hamba-hamba-Nya melainkan Dia mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, hingga tiada seorang ulama pun yang tertinggal. Akibatnya manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu mereka ditanya tentang masalah agama, maka mereka memberikan fatwanya tanpa pengetahuan, karena itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (HR, Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan hukama dengan kata-kata hikmah dan ungkapan-ungkapan bijaknya yang sarat makna terus-menerus memberikan pencerahan spiritual dan menyingkap berbagai selubung kegelapan kalbu, menyingkirkan keraguan dan kebimbangan, serta menghidupkan kembali hati yang telah membeku. "Allah Swt telah menciptakan hati dan menjadikannya sebagai tempat bahkan singgasana yang paling tinggi untuk memahami, mencintai, dan menjalankan iradah-Nya." Begitulah Ibnu Qayyim al-Jauziyah melukiskan posisi hati manusia dalam kitabnya al-Fawa`id. Memang, hati atau kalbu adalah karunia besar yang diberikan Allah Swt kepada manusia. Hati adalah tempat cahaya Ilahi, rumah bagi kebenaran yang datang dari Allah 'Azza wa Jalla. Di dalamnyalah kesejahteraan yang sejati bersemayam. Dzunnun al-Mishri mengatakan, "Orang yang mengenal Allah akan menjadi orang yang setia, hatinya cerdas, dan amalnya bersih." Oleh sebab itu tanpa pembiasaan menyimak kata-kata hikmah para hukama bisa jadi kegelapan akan bertahta di kalbu seseorang. Sedangkan dalam kalbu yang penuh kegelapan setan akan membangun istananya yang akan menjadi pusat pengendalian seluruh aktivitas dan amal perbuatan syaithaniyah. Dari istana itulah setan mengobarkan nafsu keserakahan yang tidak pernah mengenal akhir dan menghancurkan seluruh tata kehidupan. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-1498733119058758894?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/1498733119058758894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/1498733119058758894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/urgensi-keberadaan-ulama-dan-hukama.html' title='Urgensi Keberadaan Ulama dan Hukama Dalam Kehidupan'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-235191108691067359</id><published>2009-07-29T00:25:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:27:23.942+07:00</updated><title type='text'>Iman dan Utilitas</title><content type='html'>“Dua yang paling utama: iman kepada Allah dan berguna bagi kaum muslimin. Dua yang paling buruk: menyekutukan Allah dan membahayakan kaum muslimin.” (Rasulullah Saw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oOo&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Iman kepada Allah dan mentauhidkan-Nya merupakan esensi Islam dan landasan bagi totalitas kehidupan manusia. Ia adalah pengakuan dan penyaksian akan keesaan Allah Swt sebagai prinsip tertinggi dari seluruh ciptaan, semua wujud, dan kehidupan. Dengan iman dan tauhid tata kehidupan dibersihkan dari berbagai jenis keraguan yang menyangkut trandensi Tuhan dan keesaan-Nya; yang menyangkut tujuan hidup dan identitas peradaban; dan yang menyangkut seluruh nilai-nilai kehidupan. Tingkat dan ketinggian keimanan dan ketauhidan seseorang tergantung kepada tingkat ma'rifat, keyakinan, dan kesaksiannya bahwa "tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya". Refleksi otentiknya wujud dalam penghambaan yang tulus hanya kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya yang melebihi kecintaannya kepada siapapun selain-Nya. Dalam diri hamba-Nya yang sejati bertahta kultur spiritual-ideologis yang memberikan panduan bagi amal shalih, amal yang dimotivasi oleh kesadaran penghambaan yang tulus yang ditujukan semata-mata kepada Allah demi meraih ridha-Nya dan dilakukan dengan benar sesuai dengan hukum-hukum Allah yang tertuang dalam wahyu dan sunnatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbebas dari rasa takut dan gundah adalah implikasi psikologis beriman dan beramal shalih. "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS, al-Baqarah [2]: 277). Sedangkan implikasi sosialnya adalah kehidupan yang baik yang kebaikannya dapat menembus segala dimensi, ruang, dan waktu. "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS, al-Nahl [16]: 97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan syirik (menyekutukan Allah) dan segala derifasinya merupakan refleksi dari kekacauan paradigma dan persepsi tentang Tuhan dan alam. Kekacauan persepsi tentang dua realitas yang sama sekali mutlak berbeda dalam wujud atau eksistensinya: Tuhan dan bukan Tuhan, Khalik dan makhluk. Syirik suatu konsep yang coba menyatukan atau menyamakan, memasukan, dan bahkan mengacaukan dua realitas yang mutlak berbeda itu. Maka secara obyektif syirik diartikan menuhankan sesuatu yang bukan Allah, dan secara subyektif diartikan memberikan kekuasaan-kekuasaan (otoritas) dan kualitas-kualitas setengah tuhan kepada benda, para pendeta, atau para pemimpin sekuler untuk mengatur segala urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, pengetahuan dan tindakan syirik diyakini sebagai bentuk kezhaliman terbesar yang implikasi buruknya sangat luas. Secara psikologis syirik hanya membiakkan kebimbangan, kegelisahan, dan tragedi kemanusiaan. "Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim." (QS, Ali 'Imran [3]: 151). Oleh sebab itu Imam Ghazali memandang syirik sebagai penyakit hati yang paling buruk. Implikasinya sangat serius bagi kehidupan manusia itu sendiri, baik kehidupan di dunia sekarang ini lebih-lebih bagi kehidupan di akhiratnya nanti. "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) karena sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS, Luqman [31]: 13). Sedangkan kezhaliman itu adalah kegelapan yang akan meneggelamkan seluruh tatanan yang berakibat membiaknya kerusakan, anarkhisme, dan kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah manusia kezhaliman terbukti menyeret seluruh kehidupan manusia ke dalam lorong-lorong kegelapan yang mengerikan. Fitnah dan kesengsaraan yang ditimbulkannya tidak hanya menimpa pelaku kezhaliman melainkan juga orang-orang yang tidak melakukannya. "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS, al-Anfal [8]: 25).. Maka "Jauhilah syirik karena syirik itu kegelapan yang berlapis-lapis di hari Kiamat." (HR, Bukahri). []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-235191108691067359?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/235191108691067359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/235191108691067359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/iman-dan-utilitas.html' title='Iman dan Utilitas'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-6759729023897969732</id><published>2009-07-29T00:24:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:25:03.305+07:00</updated><title type='text'>Fitnah (4)</title><content type='html'>Sebagaiman kita pahami bersama, setiap transisi sistem pemerintahan, baik dari otokrasi ke demokrasi, ataukah dari satu orde ke orde lainnya bukanlah perubahan yang sederhana, melainan sangat kompleks. Perubahan itu tidak boleh diartikan hanya sebagai pergantian personalia sebuah rezim, karena yang berubah di sini bukan hanya individu melainkan juga mentalias, perilaku individu dan sosial, serta sistem sosial.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain perubahan terkadang pula berfungsi sebagai proses seleksi sejarah dengan memuat sejumlah transisi yang kompleks. Di sini kompelsitas masalah dalam transisi terkadang absurd. Ketenggelaman dalam absurditas masalah yang terdapat di dalamnya, sering menimbulkan suatu bangsa menjadi kehilangan momentum proses seleksi sejarah yang sangat strategis. Sedangkan proses seleksi sejarah kadang-kadang wujud dalam bentuk konflik habis-habisan yang melibatkan dua kelompok bahkan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam falsafah sejarah kaum muslimin, proses seleksi sejarah juga dimaknai untuk membuktikan bangsa atau orang yang secara moral laik memikul amanah risalah dan amanah ibadah. Dalam al-Qur`an disebutkan, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS, Ali ‘Imran [3]: 139-142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain, al-Qur`an menjelaskan bahwa dunia ini adalah tempat terjadinya fitnah yang berfungsi untuk membedakan apakah seseorang itu benar-benar beriman atau tidak, “Alif, laam, miim Hanya Allah yang mengetahui maksudnya. Anggaplah sebagai tanda peringatan, bahwa ayat-ayat yang tertera sesudahnya, harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Apakah orang-orang mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja seenaknya berkata: "Kami telah beriman", padahal keimanan mereka itu belum diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji keimanan orang-orang yang sebelum mereka. Dengan ujian mana, Allah benar-benar mengetahui Maksudnya, Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati manusia; baik yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Ujian diadakan oleh Tuhan agar yang diuji praktis menampilkan kepalsuan yang tadinya disembunyikannya dalam hatinya, padahal dalam ilmu Tuhan sudah terbuka. Maka dengan adanya ujian itu, faktalah yang berbicara orang-orang yang sebenarnya beriman, begitu pula orang-orang yang beriman palsu.” (QS, al-Ankabut []:1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi-konsekuensi logis dari sebuah transisi dan perubahan yang terjadi di suatu masyarakat, tidak ubahnya sebuah bendungan jebol akibat dihantam derasnya air sehingga meningkatkan kerumitan infrastruktur dan lingkungannya dalam bentuk banjir, kerusakan, dan bahkan kematian. Jebolnya sebuah sistem politik suatu masyarakat dapat meningkatkan kompleksitas masalah sosial, ekonomi, budaya, moralitas, dan bahkan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah “fitnah” akan menampakkan sosoknya yang bermacam-macam. Kematangan jiwa dan kecerdasan politik yang tercermin dalam berpikir, bersikap, dan bertindak politik, seperti dimohonkan Musa ketika diperintahkan oleh Allah untuk menghadapi Fir’aun sang tiran, adalah sesuatu yang mesti dimiliki oleh setiap aktivis dakwah yang sedang memasuki wilayah politik agar tidak tergoda atau terjebak “fitnah” yang menjadi ciri masa transisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-6759729023897969732?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/6759729023897969732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/6759729023897969732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah-4.html' title='Fitnah (4)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-2835763320526340011</id><published>2009-07-29T00:22:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:23:46.348+07:00</updated><title type='text'>Fitnah (3)</title><content type='html'>Barangkali dengan menggunakan teori sosial dan psikologi dapat membantu proses pemahaman kita terhadap realitas krisis seperti dilukiskan Rasulullah Saw di atas serta hakikat transisi dengan sejumlah perubahan yang terjadi di dalamnya. Pada dasarnya setiap perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat manusia harus dipahami sebagai proses perubahan yang mencakup aspek budaya, sosial, politik, dan mentalitas yang dapat diamati melalui perubahan yang terjadi pada fenoemana dan "realitas sosial" yang, menurut Jadwat Sa’id, merupakan refleksi utuh dari keyakinan, pandangan, dan pola hidup anggota masyarakat. Dengan demikian kita dituntut memahami setiap risis dan perubahan yang terjadi secara komprehensif agar kita dapat menemukan solusinya secara menyeluruh pula. Sebab, huum sosial menunjukkan bahwa setiap krisis yang terjadi dalam satu aspek, pada hakikatnya, sangat berkelindan dengan aspek-aspek yang lain. Misalnya, krisis keuangan yang terjadi di dunia sekarang ini, tidak lepas dengan berbagai kebijakan lain dan pola prilaku masyarakatnya. Artinya, tidak lepas dari budaya masyarakatnya. Bahkan tidak lepas dari akar ideologi yang mendasari politik ekoomi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur`an, fenomena dan "realitas sosial" didefiniskan dalam istilah "ma bi qawmin" sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengbah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengbah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS, al-Ra’d [13]: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-2835763320526340011?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/2835763320526340011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/2835763320526340011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah-3.html' title='Fitnah (3)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-5400718204746213712</id><published>2009-07-29T00:18:00.002+07:00</published><updated>2009-07-29T00:22:45.456+07:00</updated><title type='text'>Fitnah (2)</title><content type='html'>Secara hukum sosial, dalam suatu bangsa yang sedang dilanda masa-masa transisi kehadiran “fitnah” dalam jagat politik akan semakin terbuka. Pada umumnya masa transisi selalu ditandai dengan munculnya berbagai krisis. Di sinilah pentingnya kaum pergerakan memahami secara dalam hakikat transisi dan karakteristik-karateristik yang melekat di dalamnya. Dalam konteks bangsa Indonesia transisi ternyata telah menimbulkan krisis multi dimensi yang cukup berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Krisis multi dimensi yang dialami ummat telah digambarkan secara komprehensip dan sangat akurat oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la, “Bagaimana dengan kalian, jika kaum wanitanya bejat (dan mendominasi kehidupan), kaum mudanya fasiq dan kalian meninggalkan jihad?" Mereka (para Sahabat) berkata, "Apakah hal demikian bakal terjadi wahai Rasulullah Saw?" Rasulullah Saw menjawab, "Benar, demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, bahkan lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Bagaimana sikap kalian jika kalian tidak menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang munkar?" Mereka bertanya, "Apakah hal demikian bakal terjadi wahai Rasulullah Saw?" Rasulullah Saw menjawab, "Benar, demi diriku yang berada dalam genggaman-Nya, bahkan lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi." Sahabat bertanya, "Apa saja yang lebih dahsyat itu?" Rasulullah menjawab, "Bagaimana kalian jika kalian memandang yang ma'ruf sebagai munkar dan yang munkar sebagai ma'ruf." Mereka bertanya, "Apakah hal demikian bakal terjadi wahai Rasulullah Saw?" Jawab Rasulullah Saw, "Benar, demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi." Mereka bertanya, "Apa saja yang lebih dahsyat dari itu? Rasulullah Saw menjawab, "Bagaimana kalian jika kalian menyuruh yang munkar dan mencegah dari yang ma'ruf?" Sahabat bertanya, "Apakah hal demikian bakal terjadi wahai Rasulullah Saw?" Jawab Rasulullah Saw, "Benar, demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, lebih dahsyat dari itu pun bakal terjadi. Allah berfirman dalam hadits qudsi, "Demi diri-Ku, Aku bersumpah, akan Aku timpakan fitnah hingga orang bijak menjadi bingung di ddalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-5400718204746213712?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5400718204746213712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5400718204746213712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah-2.html' title='Fitnah (2)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-7296774907795926149</id><published>2009-07-29T00:17:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:18:41.682+07:00</updated><title type='text'>Mencari Politik (terakhir)</title><content type='html'>Dalam kondisi seperti itu jelas harus ada upaya bersama mengembalikan politik pada posisinya yang benar. Tanpa ada upaya yang serius mengembalikan posisi politik pada rumahnya yang asli yaitu moralias, tidak mustahil politik akan lebih jauh terseret ke dalam arus manipulasi, pengkhianatan, dan penipuan. Mengembalikan politik di sini jelas merupakan upaya besar dikarenakan harus menjelaskan peristiwa-peristiwa kritis bangsa dengan dasar religiutas dan rasionalitas untuk menemukan dan menghidupkan kembali martabat kemanusiaan yang terbunuh oleh nafsu kekuasaan serta menghindari berulangnya kehancuran martabat kemanusiaan seperti dialami dalam sejarah bangsa-bangsa. Ini berarti membawa kita ke sebuah upaya mendasar dalam pemikiran politik, yaitu mengembalikan hakikat dan makna filosofi politik dan sistem politik kepada wadahnya yang benar; mengembalikan hakikat politik ke dalam realitas kehidupan masyarakat dan selanjutnya nilai etis politik seperti kesejahteraan dan keadilan menjadi dekat dengan harapannya; dan mengembalikan sistem politik ke dalam keseimbangan sehingga tidak ada ketimpangan dalam praktik politik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu kita harus berupaya mendudukkan kembali persepsi masyarakat yang benar tentang politik. Caranya kita harus konsern dengan pengertian-pengertian politik yang mencakup esensi, fungsi, dan tujuan politik. Sesungguhnya para pakar dan cendeiawan telah mengemukakan berbagai definisi politik yang menegaskan kemelekatan moralitas dalam jagat politik. Misalnya definisi politik dalam Islam seperti dikemukakan Dr. Muhammad ’Imarah ini. “Membudayakan manusia dengan cara membimbingnya ke jalan keselamatan untuk kehidupan di dunia dan di akhirat serta mengatur tata kehidupa umum dengan aturan-aturan Islam yang adil dan istiqamah.” (Al-Islam wa al-Siyasah: al-Radd ’ala Syubuhat al-’Ilmaniyah: 29-21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan itu Imam Ghazali mengingatkan, ”Kesatuan politik hanya mungkin terealisasi dengan moral. Tanpa integritas moral warga, lebih-lebih para penguasa, masalah persatuan tidak akan pernah wujud.” Dalam kerangka itu harus ada upaya serius dari kalangan pergerakan Islam menyusun satu strategi dan langkah-langkah konkret dalam upaya membingkai realitas politik, menghidupkan ukuran dan takaran nilai moral, menciptakan, dan menyusun pembakuan kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dengan penuh kesungguhan, kita harus menumbuhkan kesiapan masyarakat untuk menerima kehadiran subyek politik yang memiliki integritas moral dan kemampuan dalam mengisi momentum dengan nilai-nilai universal menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Tanpa kesiapan itu nyaris mustahil politik dapat kembali berperan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah Bani Irail, kehadiran Thalut, secara politis, sungguh tepat dikarenakan pada saat itu mereka tengah dilanda kekosongan subyek politik yang dapat mengisi momentum yang tengah dihadapi. Akan tetapi Bani Israil justru menolak kehadirannya dikarenakan alam pikiran dan persepsinya mereka sudah terlalu lama dicengkeram orientasi duniawi dan terbiasa hidudp dilingkupi politik uang. ”Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS, al-Baqarah [2]: 247).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata ahli hikmah berikut cukup menggambarkan betapa moralitas mutlak harus ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupan. "Ada empat hal yang tergolong baik tetapi empat yang lain bagi orang-orang tertentu, justru jauh lebih baik: (1) rasa malu bagi setiap orang adalah baik tetapi bagi wanita jauh lebih baik, (2) adil bagi setiap orang adalah baik tetapi bagi penguasa jauh lebih baik, (3) taubat bagi orang yang sudah tua adalah baik tetapi bagi pemuda jauh lebih baik, dan (4) dermawan bagi orang kaya adalah baik tetapi bagi orang fakir itu jauh lebih baik.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-7296774907795926149?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7296774907795926149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7296774907795926149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-terakhir.html' title='Mencari Politik (terakhir)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-4408377570085872878</id><published>2009-07-29T00:16:00.002+07:00</published><updated>2009-07-29T00:17:32.330+07:00</updated><title type='text'>Mencari Politik (6)</title><content type='html'>Akibat semua itu, persepsi politik yang mengendap jauh ke dalam anggapan masyarakat adalah sebuah persepsi yang menegaskan bahwa politik itu sebuah arena sumber kericuhan, kemunafikan, dan keculasan. Dari situ kemudian muncul gambaran politik yang terbayang dalam memori masyarakat luas, yaitu sejumlah perilaku khianat yang bersifat kolektif yang dilembagakan secara formal dan konstitusional untuk menipu rakyat dan memperkaya diri sendiri. Di dalamnya kepentingan kekuasaan, uang, seks, dan konspirasi membentuk sebuah citra: busuk. Sedangkan lembaga-lembaga politik yang ada digambaran oleh masyarakat tak ubahnya sebagai tempat bercokolnya para predator dan komperadator. Celakanya, perilaku busuk yang dipertontonkan selalu dibungkus dengan jargon-jargon kosong ”memperjuangkan kepentingan rakyat”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, harus diakui bahwa sebagian masyarakat memandang politik dengan mencemooh. Sebagian masyarakat lainnya bahkan menganggapnya politik sebagai perbuatan sia-sia belaka. Yang lainnya menganggap politik yang berlaku sekarang tidak lebih dari ”politik dagang sapi” atau ”political horse trading” yang selalu terdengar negatif dan ditanggapi secara sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, meski dianggap bermuatan nihilisme, politik terus saja digemari oleh sebagian kalangan. Pesonanya terus menggoda sehingga banyak di antara mereka yang siap mengeluarkan milyaran rupiah demi meraih kedudukan politik dan dengan mulus pula pesona itu merayapi alam pikiran dan bawah sadar mereka. Akibatnya dunia politik semakin tampaak ambigu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-4408377570085872878?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4408377570085872878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4408377570085872878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-6.html' title='Mencari Politik (6)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-5711724101121517469</id><published>2009-07-29T00:16:00.001+07:00</published><updated>2009-07-29T00:16:48.671+07:00</updated><title type='text'>Mencari Politik (5)</title><content type='html'>Pemilu sebagai mekanisme penyeleksian calon pemimpin formal, pengintegrasian konflik kepentingan indiviu dan kelompok menjadi kepentingan bangsa, dan penggalangan dukungan rakyat kepada negara, perannya telah diambil oleh transaksi uang dan kelicikan para pemainnya. Para calonnya diiklankan sedeikian rupa, persis seperti iklan sabun dan kosmetika. Bedanya mungkin, terletak kemanfaatannya bagi konsumen. Kalau produk barang yang diiklankan, mesti akan menghasilkan kegunaan bagi konsumen, bagaimana pun kecilnya kegunaan itu. Akan tetapi, kalau yang diiklankan itu para caleg, apakah kegunaan yang sama akan diperoleh oleh para konstituen?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lebih memprihatinkan, dalam pemilu pula kompetisi individul dilegalformalkan secara terang-terangan, baik dalam satu sistem penomorurutan nama calon ataupun dalam sistem perolehan bilangan pembagi pemilih 30%. Dalam sistem penomorurutan siapa saja yang bisa menjilat pimpinan partai ia akan memperoleh nomor jadi. Dengan kata lain, seseorang hanya mungkin dicalonkan untuk diseleksi oleh rakyat jika ia mampu mendekati para elit partai. Sedangkan dalam sistem perolehan bilangan pembagi pemilih 30% seseorang bisa terpilih kalau ia populer atau memiliki uang banyak hingga mampu membeli suara. Di sini faktor integritas moral sebagai prasyarat seorang politisi yang akan terjun dalam penyeleksian sudah tidak dianggap penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih dalam sistem proporsional terbuka yang memaksa setiap orang belerja keras untuk dirinya. Efek jangka pendeknya, semakin terbukanya peluang konflik internal bahkan bisa jadi konflik kader dengan elit partai akan semakin berkobar. Selanjutnya persaingan sesama kader di satu daerah pemilihan semakin menjadi-jadi dan mungkin ”saling tikam” untuk merebut konstituen dalam daerah pemilihan yang sama. Lebih parah, kalau sebuah partai politik kekurangan dana kampanye dan kekurangan kader yang populer untuk dipasarkan menarik pemilih. Ia kemudian merekrut calon eksternal (bukan kader) yang punya dana atau popularits. Akibatnya, ketegangan di internal partai akan terus meningkat suhunya dan diperparah dengan kekecewaan kader yang memandang elit partai tidak menghargai kader serta hanya mementingkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah kebijakan publik, tampaknya politik juga harus legowo untuk turun panggung dikarenakan sudah tidak diperlukan lagi. Pasalnya, fungsi dan perannya telah dicaplok oleh apa yang disebut pragmatisme di mana semua kebijakan bisa diselesaikan dengan efisiensi teknokratis para ahli. Sumber kepatutan dan ketidakpatutan secara moral, tidak menjadi acuan lagi bagi setiap keputusan bebas para teknokrat. Akhirnya, sikap bijak yang seharusnya timbul dari keputusan bebasnya, terus tenggelam di dasar pragmatisme sehingga secara praktis dirinya tidak lagi menjadi subyek moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-5711724101121517469?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5711724101121517469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5711724101121517469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-5.html' title='Mencari Politik (5)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-7239092183878540581</id><published>2009-07-29T00:13:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:16:15.203+07:00</updated><title type='text'>Mencari Politik (4)</title><content type='html'>Kenyataan, dunia politik kita di masa kini justru tidak mengindikasikan kehadiran semua itu (esensi, fungsi, dan tujuan politik) di berbagai kehidupan publik. Akibatnya, dalam lalu lalang berbagai sektor kehidupan, politik telah kehilangan wataknya yang sublim, bahkan nyaris dinyatakan terkubur. Di tempat-tempat tertentu bahkan politik sudah dinyatakan tidak ditemukan. Sampai-sampai di pusat-pusat kegiatan politik sekalipun seperti negara dan partai politik, politik telah kehilangan sosoknya yang orisinal.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, di jagat perekonomian, politik telah dipersilahkan untuk turun panggung. Selanjutnya ia dimasukkan kedalam lemari perpustakaan. Pasalnya ialah, kapitalisme telah memasuki tulang sumsum politik, mengalir bersama darahnya, dan menciptakan kerakusan di mana-mana. Dalam kapitalisme rasionalitas menjadi sangat penting dan kemakmuran materi secara nyata dapat dicapai melalui apa yang disebut mekanisme pasar. Dengan demikian, peran-peran institusi selain pasar menjadi tidak penting untuk tujuan kemakmuran. Oleh karena itu, dengan merasuknya sistem kapitalisme ke dalam tubuh politik, maka esensi, fungsi, dan tujuan politik otomstis tergusur dari pentas politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan yang terkadang menjadi arena politik massa dan peaple power untuk menuntut keadilan dan kebenaran, sekarang telah berubah menjadi tempat eksprimen baku hantam dengan sejumlah pembenaran ideologis dan politis. Jalan-jalan telah berubah menjadi ring tinju kekuatan politik tanpa wasit dan aturan yang jelas. Akibatnya, cukup mengerikan, korban bergelimpangan di mana-mana. Mengapa terjadi demikian? Lagi-lagi jawabannya karena para aktivis dan politisi sudah kehilangan sensitifitas untuk menangkap makna politik.&lt;br /&gt;Di ruang-ruang parlemen dan lembaga-lembaga legislatif, tempat yang sangat politis bagi para politisi dalam mengekspresikan cita-cita politiknya, menyusun kebijakan politik, mengartikulasikan kehendak rakyat, dan memperjuangkan gagasan untuk kesejahteraan rakyat, politik juga telah tertelan oleh arogansi kelompok, watak culas para politisi, dan dekadensi moral anggotanya. Di tempat-tempat itu pula politik telah dilumuri dosa yang disebut korupsi politik di parlemen dengan cara memperjualbelikan kekuasaan elektoral demi keuntungan pribadi. Jelas, dosa ini merupakan kejahatan yang bahayanya jauh lebih dahsyat ketimbang korupsi (rasuah) yang dilakukan oleh orang yang tak memiliki kekuasaan politik dikarenakan dampak sosial-politik dan ekonominya yang sangat luas. Di sisi lain jenis korupsi ini merupakan salah satu bentuk pengkhianatan terhadap amanat rakyat. Lebih dari itu, di lembaga yang terhormat ini pula politik dibantai oleh sistem yang apolitik. Di sini politik knock out hingga terkapar di atas ring kena hantam rezim prosedural yang mengabaikan substansi, etika, dan moralitas. Di tempat lain, politik telaah mati di tikam kaum birokrat dengan pisau pragmatisme yang sangat tajam.&lt;br /&gt;Bahkan di partai-partai politik dan lembaga-lembaga masyarakat pun politik nyaris sekarat dihajar pemokusan arah perjuangan partai dan organisasi kepada peraihan kekuasaan dan pengumpulan uang. Akibatnya, muncul kecenderungan metamorfosis bahwa partai politik tidak lebih dari sebuah industri. Hal itu tampak dengan terang benderang. Perekrutan calon anggota legislatifnya pun tak ubahnya cara sebuah perusahaan mencari pegawai dengan mengiklankannya di media cetak dengan persyaratan dan tempat pendaftarannya. Akibatnya, fungs-fungsi sebuah partai politik, secara dramatik, berubah menjadi mesin kekuasaan dan pengumpul uang paling efektif. Keadaan politik benar-benar lumat karena digerus dan digilas habis oleh mesin yang bernama gila kekuasaan dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya, seperti ditulis Imam Ghazali, posisi politik harus tetap dijaga sebagai bagian integral dari moralitas sebagaimana tercermin dalam pengertian politik itu sendiri. Konsekuensinya, setiap politisi harus memiliki integritas moral yang tinggi. Mereka selain teguh dalam memegang prinsip juga tangguh dalam menghadapi tantangan-tantangan politik. Akan tetapi, yang tampil justru politisi-politisi yang menempuh jalan pintas untuk diakui sebagai pemimpin yang layak memerintah di sebuah negara melalui iklan di media masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-7239092183878540581?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7239092183878540581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/7239092183878540581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-4.html' title='Mencari Politik (4)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-8735548796901222629</id><published>2009-07-29T00:12:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:13:50.162+07:00</updated><title type='text'>Mencari Politik (3)</title><content type='html'>Selanjutnya, anugerah nilai kemerdekaan (kebebasan) yang menjadi potensi dasar manusia itulah yang telah memastikan dirinya sebagai makhluk moral. Dalam Islam, tauhid adalah wajah pengekspresian manusia akan kebebasan dirinya sebagai makhluk yang hanya mengabdi kepada Dzat yang telah menciptakannya. Pada kenyataannya, tanpa tauhid setiap upaya pembebasan akan menjadi sia-sia. Dalam Islam ketentuan tentang kebebasan bermakna larangan bagi manusia menindas dirinya sendiri dan atau menindas orang lain. Di sini politik seharusnya dapat berfungsi optimal dalam membebaskan manusia dari segala bentuk kezaliman, penindasan, dan kekacauan, serta menegakkan keadilan, kebaikan, dan keteraturan di semua bidang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fungsi-fungsi itu oleh Allah Swt diisyaratkan sebagai sifat-sifat para pengikut nabi. ”Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia Ini dan di akhirat; Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami". (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung” (QS, al-A’raf [7]: 156-157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Tafsir Al-Munir, Dr. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan salah satu sifat pengikut Nabi Muhammad adalah terlibat membebaskan manusia dari berbagai belenggu yang menindas, baik dalam bentuk ideologi, hukum ataupun kebijakan. Keharusan upaya pembebasan dimaksud manusia diperintahkan pula oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, ”Tolonglah saudaramu dalam keadaan menzalimi atau dizalimi. Nabi ditanya, ”Bagaima kita menolong saudara yang menzalimi?” Rasulullah Saw menjawab, ”Kamu mencegahnya dari kezalimannya, karena sesungguhnya itulah (cara) menolongnya.” (HR, Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan, sebuah masyarakat tidak akan bergerak maju bersama untuk mencapai tujuan politik, yakni kesejahteraan bersama, sebelum mereka mampu memastikan dirinya sebagai makhluk moral yang yang berdaya, yang salah satu cirinya ialah memiliki kesiapan dalam melakukan perubahan. Konsekuensinya, masyarakat tersebut juga harus mampu mengubah mentalitas dirinya (ma bi anfusihim) dan membebaskannya dari segala bentuk kezaliman, baik kezaliman atas dirinya atau pun kezaliman dirinya atas orang lain. Secara teoritis, politik yang benar adalah memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, pemerasan, ketidakadilan, kebodohan, dan kemiskinan dalam kehidupan bersama. Di sini politik harus berperan aktif dalam melakukan fungsi perubahan dan pembebasan tersebut dikarenakan hanya manusia-manusia yang bebas, dalam arti yang sejatinya, yang akan menjadi makhluk moral, yang memiliki kepantasan untuk memikul amanah politik dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan kata lain, tujuan etis kegiatan politik melekat dalam proses humanisasi. Di sini politik berfungsi sebagai ajang pendidikan manusia agar hidupnya makin berkembang dalam mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara.&lt;br /&gt;Di sisi lain, kesejahteraan, dalam arti lahir dan batin, adalah tujuan dan cita-cita politik yang bersifat universal. Manifestasi kesejahteraan lahiriah ialah terpenuhinya segala kebutuhan biologis sedangkan manifestasi kesejahteraan batiniah ialah terpenuhinya kebutuhan psikologis. Wujud konkret keduanya adalah kemakmuran dan keamanan (ketenteraman) seperti dilukiskan dalam al-Qur`an. ”Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS, al-Nahl [16]: 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, keberadaan politik, antara lain, dapat diamati pada tercapainya tujuan-tujuan itu. Dengan kata lain, terwujudnya kesejahteraan bersama menjadi salah satu indikasi otentik adanya politik. Tentu saja, terwujudnya tujuan-tujuan itu sangat berkaitan dengan keberadaan esensi politik dan keefektifan fungsi otentiknya di setiap bidang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-8735548796901222629?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/8735548796901222629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/8735548796901222629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-3.html' title='Mencari Politik (3)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-5235601850694932403</id><published>2009-07-29T00:11:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:12:49.243+07:00</updated><title type='text'>Mencari Politik (2)</title><content type='html'>Bagaimana tidak? Dari makna filosofi politik yang telah dikemukakan para filosof dan orang-orang bijak, setidak-tidaknya dapat ditangkap tiga hal yang melekat pada setiap aktivitas politik, yaitu esensi, fungsi, dan tujuannya. Keberadaan ketiganya jelas tidak dapat dilepaskan dari aktivitas politik manapun. Sejatinya, esensi politik sangat berkaitan dengan sejumlah hukum dan nilai moral yang membentuk moralitas. Sedangkan fungsi politik tidak juga dapat dilepaskan dari salah satu tugas otentik penciptaan manusia, yaitu pembebasan manusia dari segala bentuk kezaliman dan mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik. Tugas otentik manusia tersebut jelas menggambarkan moralitas yang melekat di dalamnya. Akan halnya tujuan politik, di sepanjang sejarah hidup manusia, apakah sebagai individu atau sebagai bangsa, tidak pernah bergeser dari tujuan mencapai kesejahteraan hidup bersama. Kesejahteraan, dalam artinya yang sejati, hanya lahir jika moralitas menjadi dasar setiap pencapaian tujuan politiknya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, moralitas adalah sesuatu yang melekat pada politik. Konsekuensinya, harus selalu dijaga relasi spiritual dan fungsional dalam politik. Harus dipelihara konsistensi kesatupaduan antara integritas moral politisi dengan politik yang menjadi kepercayaan rakyat dan tanggungjawabnya. Imam Ghazali demgan sangat tegas menyataan, politik dan moralitas bukan sekedar saudara kembar yang tak boleh dipisahkan seperti dikatakan Plato dan Aristoteles, tetapi merupakan kesatuan dan keterpaduan yang tak terpisahkan. Bahkan ia menegaskan, moral dan politik harus bersatu padu yang tidak boleh dipisahkan. Di sisi lain moralitas itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari hukum moral yang didasarkan atas keputusan bebas manusia. Dari pandangan inilah kemudian memunculkan istilah siyasatu al-akhlaq.&lt;br /&gt;Dalam pandangan Islam, nilai suatu tindakan tidak dapat dilepaskan dari nilai moral yang mendasarinya. Oleh karena itu nilai keluhuran yang menyertai amal baik seseorang itulah yang membentuk kebaikan dalam artinya yang sejati. Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Allah Swt, sesuai dengan sifat-Nya yang baik, hanya menerima yang baik, “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR, Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam falsafah selalu ditekankan bahwa sebuah tindakan yang baik secara moral ialah tindakan bebas manusia yang mengafirmasikan nilai etik obyektif dan yang mengafirmasikan hukum moral. Oleh sebab itu suatu tindakan dapat disebut buruk secara moral jika ia bertentangan dengan nilai etik dan hukum moral. Menurut Imam Ghazali, hukum moral yang tidak tertulis maupun hukum negara yang tertulis dan berlaku untuk seluruh negara, mempunyai hubungan yang tak terputuskan. Satu sama lain berjalin berkelindan untuk kepentingan seluruh manusia. Sebuah hukum negara tidak akan dapat bertahan lama jika tidak berdasarkan moral. Demikian pula halnya, hukum moral tanpa didukung oleh hukum formal tidak akan mampu bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah fungsi-fungsi etis menjadi pembentuk moralitas yang paling esensial. Wujud konkretnya dapat dilihat pada perilaku politik yang menunjukkan keperibadian politik seseorang atau sekelompok orang. Suatu ketika Umar Khaththab, Khalifah yang sangat terkenal berpegang teguh pada moralitas dalam menjalankan politiknya, kedatangan anaknya di tempat kerjanya. Kepada anaknya ia berkata, ”Anakku, apakah engkau datang ke tempat ini sebagai puteraku atau sebagai rakyat? Bila yang pertama, akan saya matikan dulu lampu ini karena aku akut menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan peribadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi-fungsi etis itu sendiri memiliki standar-standar filosofis yang berakar pada sumber-sumber yang disandarinya. Ada yang bersandar pada akal dan ada pula yang bersandar pada wahyu. Misalnya ”keadilan” menurut pandangan Plato dan ”kehidupan baik” menurut pandangan Aristoteles, ditentukan oleh akal sehat. Lain halnya keadilan dan kebaikan menurut Ibnu Taimiyah. Beliau menegaskan, masalah keadilan dan kebaikan itu ditentukan oleh wahyu Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-5235601850694932403?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5235601850694932403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/5235601850694932403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-2.html' title='Mencari Politik (2)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-1231582812094780200</id><published>2009-07-29T00:08:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:10:54.085+07:00</updated><title type='text'>Fitnah</title><content type='html'>Begitu sebuah pergerakan Islam mengambil keputusan memasuki wilayah politik, implikasinya pasti sangat luas, bukan hanya kepada perjalanan gerakan itu sendiri, melainkan juga kepada kehidupan ummat secara keseluruhan. Untuk itu, dengan seluruh perbekalan yang diperlukan dan wahana yang memadai, kaum pergerakan Islam harus siap menghadapinya agar tidak dianggap telah membinasakan ummat yang selama ini menjadi basis konstituennya yang nyata. Salah satu implikasi yang muncul dan tidak bisa dianggap remeh ialah kehadiran “fitnah” di tengah perjalanan politik. Dalam bahasa Arab asal kata “fitnah” berarti pembakaran. Seorang leksikograf muslim termasyhur al-Jurjani dalam Kitab al-Ta’rifat menyebut hakikat “fitnah” sebagai sesuatu yang dapat memperjelas keadaan manusia dalam hal kebaikan dan kejahatannya. Ibarat panas bagi proses pemurnian logam emas. Jika logam emas itu sedang mengalami proses pembakaran, untuk mengetahui kadar kemurniannya, disebut sedang dilanda fitnah. Dari situ “fitnah” berarti pembakaran, ujian, cobaan, godaan, pesona, atau sesuatu yang membakar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam nasehatnya, al-Muhasibi mengatakan, “Ketahuilah, kejujuran, keburuan, dan kebohongan yang tersembunyi di hati baru terlihat setelah diuji. Tanpa ujian, sesuatu belum dapat dinilai baik atau buruk. Dengan ujian, tersibaklah rahasia yang tersembunyi dalam hati, yang baik atau yang buruk. Dengan pertimbangan saat diuji, hiasi hati kita dengan kebaikan. Jika hasil ujian menunjukkan baik, sepantasnya kebaikan itu diamalkan. Sebaliknya, jika hasil ujian menunjukkan buruk, kita terlebih dahulu harus memperbaiki kebaikan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam catatan kaki terjemahan ayat 191 surat “fitnah” diartikan sesuatu yang menimbulkan kekacauan, seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka, dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama. Catatan kaki untuk kata fitnah dalam ayat 217 diartikan sebagai penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan, kehadiran “fitnah” merupakan salah satu watak perjalanan politik sebuah pergerakan. Dalam sosiologi, istilah “fitnah” digunakan untuk menunjuk kegiatan yang dapat mengguncang stabilitas masyarakat dalam suatu negara. Keguncangan stabilitas itu antara lain ditandai dengan hilangnya loyalitas masyarakat dan munculnya penentangan keras terhadap pemerintah serta adanya mobilisasi pembangkangan , baik dalam bentuk gerakan, ungkapan, atau tulisan yang tidak sampai ke tingkat pengkhianatan terhadap negara dan tidak mesti disertai dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-1231582812094780200?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/1231582812094780200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/1231582812094780200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/fitnah.html' title='Fitnah'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-967476019161358698</id><published>2009-07-29T00:07:00.000+07:00</published><updated>2009-07-29T00:08:45.373+07:00</updated><title type='text'>Mencari Politik (1)</title><content type='html'>Menemukan politik di tengah masyarakat yang sedang dilanda kegalauan sosial-politik nyaris sama sukarnya dengan menemukan kejujuran di tengah pasar barang-barang selundupan yang sedang hiruk-pikuk dikunjungi penyelundup, penadah, dan pembeli. Mungkin ungkapan itu terasa agak berlebihan. Akan tetapi realitas kehidupan politik yang bising oleh jargon-jargon yang diteriakkan para politisi, hiruk-pikuk para pengamat, kekacauan komunikasi politik, konflik-konflik internal partai-partai politik yang makin terbuka, persaingan tidak sehat calon-calon legislatif, kerusuhan di berbagai momen pilkada, dan kebrutalan kaum birokrat dan anggota legislatif dalam mengeruk kekayaan negara dewasa ini, setidak-tidaknya mengindikasikan kenyataan itu. Tentu apabila kita mengamatinya lebih seksama dengan menggunakan kaca mata makna filosofi politik sebagaimana dirumuskan para filosof dan orang-orang bijak. Antara lain seperti dikemukakan Aristoteles, “Politik adalah ikhtiar bersama dalam mencapai kebahagiaan”. Atau yang dikatakan Ibnu Qayyim dan Plato. “Politik adalah upaya manusia mendekatkan kehidupan kepada perbaikan dan menjauhkan dari kerusakan”. “Politik sebagai usaha untuk menata kehidupan yang lebih baik dalam masyarakat”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Baik pandangan yang dikemukakan Aristoteles, Ibnu Qayyim, ataupun Plato, secara esensial meniscayakan adanya etika dalam politik yang secara definitif disebut etika politik. Para ahli etika politik selalu menegaskan, tujuan etika politik adalah mengarahkan kehidupan bersama ke arah yang lebih baik dengan cara memperluas nilai-nilai kebaikan di masyarakat melalui pembentukan institusi yang adil yang menjai sarana mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan demikian, sesuai dengan pandangan Ibnu Khaldun, politik atau kekuasaan sangat erat hubungannya dengan keluhuran moral. Dalam perspektif ini politik atau kekuasaan harus dipandang sebagai amanah. Pada hakikatnya, kekuasaan yang ada pada sang penguasa adalah konsekuensi dari adanya moral yang tinggi yang ada pada dirinya. Ibnu Khaldun selanjutnya menegaskan, peran agama, yang menjadi akar moralitas manusia, dalam diri para politisi dan penguasa haruslah besar dikarenakan ia menduduki posisi sentral dalam mengarahkan tingkah laku politik seorang penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab posisi akhlak atau moralitas sebagai sumber setiap tindaan politik, bahkan setiap tindakan peribadi dan masyarakat dalam satu ikatan bersama, maka keberadaan akhlak atau moralitas, menurut Imam Ghazali, mendahului keberadaan negara dan politik. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa akhlak dan moralitas harus menjadi ukuran yang jelas dan tegas bagi politik suatu bangsa, baik untuk menetapkan suatu tindakan politik yang baik atau pun sebaliknya, yaitu untuk menilai suatu tindakan politik yang tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, jika realitas politik bangsa ini kita amati dengan menggunakan kaca mata pandangan tersebut, tentu kita akan memperoleh kesimpulan bahwa ungkapan betapa sukarnya menemukan politik sekarang ini seperti disebut pada awal tulisan ini tidak sepenuhnya berlebihan. Bahkan secara jujur dapat dikatakan mengandung kebenaran yang dalam batas tertentu sukar untuk dibantah. Kenyataannya, kita akan kesukaran menemukan kondisi yang ideal dalam perilaku lahiriah masyarakat dan sosial-politik, yang oleh Imam Syafi`i dilukiskan dalam syairnya sebagai berada dalam situasi dan kondisi zaman al-aughad (zaman edan). Menurut Imam Syafi’i, situasi dan kondisi “zaman edan” ditandai antara lain oleh kebobrokan para penguasa. “Situasi zaman yang mengendalikan para pembesar sehingga mereka menjadi budak zaman. Anda saksikan mereka tunduk di bawah komando selera zaman yang edan.” Celakanya, “kondisi edan” seperti itu telah menjadi realitas politik kontemporer kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara luas, politik sering dipersepsi sebagai tindakan bijak yang menyeruak ke seluruh sektor kehidupan manusia. Politik selalu dipandang sebagai salah satu aspek mendasar dalam kehidupan manusia. Dengan politik manusia dapat menata seluruh kehidupan bersama secara lebih manusiawi. Dengan politik pula manusia dapat mewujudkan kesejahteraan hidupnya. Artinya jangkauan wilayah politik begitu luas, seluas kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, dalam mengarungi kehidupan ini, kita mengenal berbagai istilah yang dinisbatkan kepada politik. Dari mulai politik ekonomi, politik pemerintahan, politik pendidikan, sampai ke politik kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, kenyataan sekarang ini menunjukkan bahwa kita nyaris tidak menemukan politik di dalam bidang-bidang kehidupan itu, sekalipun di bidang yang sarat dengan nuansa politiknya. Yang tampil ke permukaan adalah prilaku politik yang tidak mencerminkan politik. Akibatnya, di jagat politik nyaris tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Ia dipersepsi sebagai seni dari berbagai kemungkinan. Bahkan adigium dalam politik, ”tidak ada kawan yang sejati dan tidak ada lawan yang permanen, yang abadi adalah kepentingan”, telah dipraktikkan secara nyata hingga menjadi realitas politik. Akibatnya, yang semula menjadi kawan akan menjadi lawan, dan yang semula menjadi lawan berubah menjadi kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, politik telah kehilangan nilainya yang luhur, yaitu moralitas. Salah satu refleksi lekatnya moralitas dalam jagat politik tampak pada adigium ”politik itu memberi, bukan menerima”. Bahkan di dunia politik sekarang ini ada kecenderungan terjadi pelanggaran integritas moral secara besar-besaran. Sedangkan hakikat pelanggaran integritas moral adalah pengkhianatan terhadap politik. Jangan berharap akan lahir keluhuran makna politik jika elite politik, para politisi, dan para pemimpin pergerakan tidak mengenal integritas moral dan melakukan pengkhianatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di lembaga-lembaga yang sangat politiis sekalipun, di mana para politisi memutuskan keputusan-keputusan yang bersifat politis seperti di badan-badan legislatif, ekskutif, dan bahkan di partai-partai politik, politik dalam maknanya yang luhur tidak hadir. Tampaknya akan sia-sia saja bila kita terus berusaha mencarinya. Faktor penyebab fundamentalnya, antara lain ialah terpelantingnya politik dari maknanya yang sejati dari bidang-bidang kehidupan itu. Akibatnya, banyak kalangan yang secara sinis mengatakan bahwa realitas politik kita sudah mati terbunuh di tangan para politisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bersambung...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-967476019161358698?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/967476019161358698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/967476019161358698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2009/07/mencari-politik-1.html' title='Mencari Politik (1)'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2865045134728250205.post-4245157713973289063</id><published>2008-10-29T17:31:00.002+07:00</published><updated>2009-07-29T10:23:42.964+07:00</updated><title type='text'>Selamat Datang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aziQum5ix8Y/SL49BNeJi4I/AAAAAAAAACk/TqXNmI5NMNE/s1600-h/body_blog.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aziQum5ix8Y/SL49BNeJi4I/AAAAAAAAACk/TqXNmI5NMNE/s320/body_blog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241694107311115138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, blog sebagai media silaturrahim ini akhirnya bisa terwujud. Mudah-mudahan pengunjung dapat mengambil manfaat dari apa yang saya tuangkan baik berupa tulisan maupun berita-berita dari media. &lt;a href="http://galeriabdi.blogspot.com/"&gt;Galeri&lt;/a&gt; adalah rekaman kegiatan saya dalam bentuk gambar. Dan &lt;a href="http://profilabdi.blogspot.com/"&gt;pemikiran&lt;/a&gt; adalah tulisan saya yang sempat dipublikasikan di surat kabar harian, majalah atau forum seminar. Akhirnya, selamat menyimak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2865045134728250205-4245157713973289063?l=abdi275.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4245157713973289063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2865045134728250205/posts/default/4245157713973289063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abdi275.blogspot.com/2008/10/selamat-datang.html' title='Selamat Datang'/><author><name>Abdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05331875254186581235</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aziQum5ix8Y/SL49BNeJi4I/AAAAAAAAACk/TqXNmI5NMNE/s72-c/body_blog.jpg' height='72' width='72'/></entry></feed>
