Juli 29, 2009

PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - 7

Kedelapan, Iblis membelit para pemimpin dan penguasa dengan melakukan penetrasi dengan cara memperindah asumsi-asumsi hingga ke tingkat mengkristalkan anggapan bahwa mereka telah melaksanakan tugas dan kewajiban yang secara kasat mata baik dan bagus. Meskipun jika mereka mau merenunginya lebih dalam terhadap semua perbuatan yang mereka lakukan, niscaya mereka sendiri mendapati banyak sekali penyelewengan. Al-Qasim bin Thalhah bin Muhammad menceriterakan, ”Aku temui Wazir Ali bin Isa sedang mempekerjakan seorang lelaki untuk berkeliling di pasar, khususnya untuk memperhatikan penjual buah anggur. Jika ada orang yang membeli satu bakul anggur yang bisa dibuat arak, ia tidak diganggunya. Akan tetapi jika ada yang membeli dua bakul anggur, di atas anggur itu ditaburi garam supaya tidak dapat dibikin arak. Dia menceriterakan pula bahwa di zaman itu dirinya mendapati para sultan yang melarang ahli nujum duduk di tengah jalan supaya perbuatan menujum tidak tersebar. Dia juga melihat dalam barisan tentara tidak ada seorang pun yang menyimpan anak ”amrad” yang cakep atau berrambut sampai dimulainya pemerintahan kaum ajam.

Kesembilan, Iblis memperindah perbuatan mengumpulkan dan mengeluarkan dana yang diperoleh dari hasil cukai yang memberatkan dan merampas harta kekayaan si pengkhianat dengan cara menyuruhnya bersumpah padahal cara yang benar ialah dengan mendirikan bayinah atau saksi atas pengkhianat itu. Umar bin Abdul Aziz berceritera, seorang gubernurnya menulis surat kepadanya yang isinya bahwa di daerahnya banyak orang yang menipu harta Allah. Gubernur itu merasa tidak mampu mengambil apa yang ada di tangan mereka melainkan dengan cara kekerasan. Surat itu kemudian dijawab oleh Umar bin Abdul Aziz, ”Jika mereka nanti di akhirat menjumpai Allah Swt dengan pengkhianatan mereka, dalam pandanganku, adalah lebih baik daripada aku menemui mereka dalam keadaan berdarah-darah.”

Kesepuluh, Iblis juga melakukan penetrasi dengan cara memperindah anggapan bahwa sedekah para pemimpin dan penguasa yang dikeluarkan dari harta hasil rampasan dan pencurian uang rakyat (korupsi) dapat menghapus dosa korupsi. Oleh Iblis perbuatan sedekah dari hasil uang korupsi itu ditampakkan kepada mereka sebagai perbuatan yang akan menghapus dosa mereka. Iblis membisikkan, ”Sesungguhnya sedekah satu dirham akan menghapus sepuluh dosa perampasan dan pencurian uang rakyat.”

Sejatinya hal itu adalah mustahil, sebab dosa merampas hak orang tetap sebagai dosa yang melekat kepada perampas. Sementara itu satu dirham dari sumber uang rampasan (korupsi) yang disedekahkan itu tetap tidak diterima oleh Allah. Andaikan sedekah itu pun dari yang halal, ia tetap tidak dapat menolak dosa perbuatan merampas dan mencuri hak orang lain. Oleh karena itu memberikan sesuatu kepada sang fakir tidak dapat menghapus tanggungan seseorang terhadap hak orang lain.

Kesebelas, Iblis melakukan penetrasi kepada para pemimpin dan penguasa dengan cara mengobarkan anggapan bahwa kebiasaan mendatangi kaum salihin dan meminta doa mereka, sedangkan mereka tetap bergelimang dosa dan kemaksiatan, dapat meringankan dosa yang dilakukannya. Padahal kunjungan kepada orang-orang salih dan meminta doa mereka tidak dapat menghapus dosa mereka.

Al-Husein bin Ziyad menceriterakan, ”Aku pernah mendengar Manik berkata, ”Sekali peristiwa datang seorang pedagang membawa masuk kapal dagangannya, lalu kapal itu ditahan oleh petugas bea cukai dan dia tidak mau melepaskannya. Karena merasa diperlakukan tidak adil, pedagang itu kemudian pergi mendatangi Malik bin Dinar dan melaporkan kejadian itu kepadanya. Kemudian Malik bin Dinar pergi bersama pedagang itu menemui petugas bea cukai tadi. Ketika petugas itu melihat Malik bin Dinar datang, mereka mengatakan, ”Wahai Abu Yahya, beritahu apa keperluan Anda.” Malik menjawab, ”Keperluanku adalah minta pembebasan kapal pedagang ini.” Para petugas bea cikai menjawab, ”Baik, kami akan segera membebaskannya.” Kebetulan sekali di kantor bea cukai tersebut terdapat sekantong uang hasil pungutan liar. Lalu para petugas bea cukai tersebut berkata, ”Wahai Abu Yahya, doakan kami.!” Dijawab oleh Malik bin Dinar, ”Mintalah kepada kantong ini supaya mendoakan kalian. Aku hanya seorang yang mendoakan kalian sedang ada seribu yang lain mendoakan kalian supaya kalian celaka. Apakah kalian menyangka Tuhan akan menerima doa seorang agar kalian menjadi orang baik, sedangkan ada seribu orang lain mendoakan agar kalian celaka.”?

Kedua belas, Iblis juga melakukan penetrasi ke dalam pemikiran para birokrat dalam suatu pemerintahan. Mereka biasa melaksanakan semua perintah atasannya meskipun perintah itu sarat dengan muatan kezhaliman terhadap rakyatnya. Para birokrat itu pun biasa melakukan kezhaliman sesuai dengan bunyi perintahnya. Iblis melakukan penetrasi jalan pikiran mereka dengan cara mensugesti mereka bahwa yang mereka lakukan itu semata-mata menurut perntah atasan. Sebagai bawahan memang harus mentaati perintah atasannya. Oleh karena itu yang akan menanggung dosanya adalah sang penguasa, sultan, atau amir yang telah memerintahkan mereka supaya melakukan kezhaliman itu. Dosa kezhaliman yang mereka lakukan tidak akan ditanggung oleh para pelaksana karena posisi mereka semata-mata melaksanakan perintah atasan.

Pandangan seperti itu jelas batil, bagaimana seseorang dapat melepaskan diri dari tanggungjawab atas perbuatannya sedangkan dia juga turut membantu melakukan penindasan, kecurangan, dan penyelewengan? Pokoknya, siapa saja yang membantu orang lain melakukan maksiat, dosanya sama dengan orang yang melakukannya. misalnya, sehubungan dengan masalah minuman keras, Rasulullah Saw mengutuk sebanyak 10 orang yang terlibat di dalamnya. Beliau juga melaknat pemakan riba sama dengan wakilnya, pencatatnya, dan dua orang saksinya.

Begitu pula halnya seorang petugas pajak yang seluruh hasilnya disetorkan kepada atasan yang diketahui akan digunakan secara boros dan mubazir serta mengkhianati manusia. Mereka akan terkena dosanya meskipun tidak menikmatinya. Tegasnya, si petugas tadi telah menjadi pembantu perilaku kezhaliman tersebut. Dalam sebuah hadits dengan sanad marfu’ kepada Ja’far bin Sulaeman bahwa dia telah berkata, ”Aku mendengar Malik bin Dinar berkata, ”Memadailah seseorang itu dicap pengkhianat apabila dia menjadi pembantu atau pesuruh orang yang berkhianat.”

Allah saja yang dapat menunjuki kita ke jalan yang benar.[]