Kedua, Iblis membius para pemimpin dan penguasa dengan pujian secara tidak langsung. Ia seolah-olah menegaskan kembali bahwa sejatinya setiap kekuasaan membutuhkan haibah (martabat, kharisma, dan personalitas yang hebat). Tanpa haibah tak mungkin seseorang akan menjadi pemimpin atau penguasa sejati. Jika pemimpin atau penguasa terbuai oleh pujian itu, akan berimplikasi sangat luas bagi kondisi kejiwaannya. Antara lain dapat membentuk dirinya menjadi orang takabbur (snob), enggan menuntut ilmu, dan tidak mau duduk-duduk di majelis para ulama. Lebih jauh, sikap seperti itu mendorng mereka selalu bersandar kepada pemikiran dan pandangan mereka sendiri dalam melakukan sesuatu. Akibatnya, sungguh sangat fatal, sampai ke tingkat merusak agama.
Faktor penyebab kerusakan itu ialah menyangut tabiat manusia, yaitu kecenderungan menyesuaikan diri dengan perilaku orang sekelompoknya. Memang salah satu tabiat manusia cenderung bersikap conformity dengan kelompoknya. Ia akan berusaha menyesuaikan diri dan meniru tabiat dan perilaku orang yang biasa duduk bersama (kelompok). Hal itu dilakukan agar dirinya tetap diakui sebagai kelompoknya. Oleh karena itu jika seseorang biasa bercampur dengan orang-orang yang mementingkan keduniaan dan bodoh dalam urusan agama, niscaya dia akan meniru tabiat dan perilaku mereka. Dia akan menerima segala macam pengaruh yang ditimbulkannya tanpa ada upaya penentangan dan pencegahannya, bahkan ia terus berupaya menyesuaikan diri dengan perilaku kelompoknya. Semua itulah yang menyebabkan dirinya terseret ke dalam kebinasaan.
Ketiga, Iblis mendorong para pemimpin dan penguasa agar memiliki sikap paranoid yang kental dengan cara melakukan penetrasi melalui bisikan bahwa mereka telah dikepung ancaman musuh. Bagi para pemimpin dan penguasa yang tertipu oleh bisikan semacam itu, mereka pasti akan mengetatkan pengawasan dan berusaha habis-habisan untuk melindungi diri mereka. Dengan cara itu mereka berharap agar orang-orang yang marah karena teraniaya oleh kepemimpinan dan kekuasaan mereka tidak dapat menyentuhnya. Sementara, mereka tidak pernah memperhatikan dan menyelesaikan problem yang dihadapi orang-orang yang teraniaya itu. Abu Maryam al-Asadi meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, ”Siapa yang diberikan kekuasaan oleh Allah Swt untuk mengendalikan urusan kaum muslimin, lalu dia mengelak dari tanggungjawab menyelesaikan urusan, keperluan, dan kefakiran mereka, kelak Allah tidak akan memperhatikan kebutuhan, keperluan, dan kefakiran mereka.”
Browse » Home » » PENETRASI IBLIS KEPADA PEMIMPIN DAN PENGUASA (1), Diterjemahkan dari Kitab Talbisu Iblis - lanjutan