Selanjutnya, anugerah nilai kemerdekaan (kebebasan) yang menjadi potensi dasar manusia itulah yang telah memastikan dirinya sebagai makhluk moral. Dalam Islam, tauhid adalah wajah pengekspresian manusia akan kebebasan dirinya sebagai makhluk yang hanya mengabdi kepada Dzat yang telah menciptakannya. Pada kenyataannya, tanpa tauhid setiap upaya pembebasan akan menjadi sia-sia. Dalam Islam ketentuan tentang kebebasan bermakna larangan bagi manusia menindas dirinya sendiri dan atau menindas orang lain. Di sini politik seharusnya dapat berfungsi optimal dalam membebaskan manusia dari segala bentuk kezaliman, penindasan, dan kekacauan, serta menegakkan keadilan, kebaikan, dan keteraturan di semua bidang kehidupan.
Fungsi-fungsi itu oleh Allah Swt diisyaratkan sebagai sifat-sifat para pengikut nabi. ”Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia Ini dan di akhirat; Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami". (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung” (QS, al-A’raf [7]: 156-157).
Dalam Al-Tafsir Al-Munir, Dr. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan salah satu sifat pengikut Nabi Muhammad adalah terlibat membebaskan manusia dari berbagai belenggu yang menindas, baik dalam bentuk ideologi, hukum ataupun kebijakan. Keharusan upaya pembebasan dimaksud manusia diperintahkan pula oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, ”Tolonglah saudaramu dalam keadaan menzalimi atau dizalimi. Nabi ditanya, ”Bagaima kita menolong saudara yang menzalimi?” Rasulullah Saw menjawab, ”Kamu mencegahnya dari kezalimannya, karena sesungguhnya itulah (cara) menolongnya.” (HR, Bukhari)
Dapat dikatakan, sebuah masyarakat tidak akan bergerak maju bersama untuk mencapai tujuan politik, yakni kesejahteraan bersama, sebelum mereka mampu memastikan dirinya sebagai makhluk moral yang yang berdaya, yang salah satu cirinya ialah memiliki kesiapan dalam melakukan perubahan. Konsekuensinya, masyarakat tersebut juga harus mampu mengubah mentalitas dirinya (ma bi anfusihim) dan membebaskannya dari segala bentuk kezaliman, baik kezaliman atas dirinya atau pun kezaliman dirinya atas orang lain. Secara teoritis, politik yang benar adalah memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, pemerasan, ketidakadilan, kebodohan, dan kemiskinan dalam kehidupan bersama. Di sini politik harus berperan aktif dalam melakukan fungsi perubahan dan pembebasan tersebut dikarenakan hanya manusia-manusia yang bebas, dalam arti yang sejatinya, yang akan menjadi makhluk moral, yang memiliki kepantasan untuk memikul amanah politik dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan kata lain, tujuan etis kegiatan politik melekat dalam proses humanisasi. Di sini politik berfungsi sebagai ajang pendidikan manusia agar hidupnya makin berkembang dalam mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara.
Di sisi lain, kesejahteraan, dalam arti lahir dan batin, adalah tujuan dan cita-cita politik yang bersifat universal. Manifestasi kesejahteraan lahiriah ialah terpenuhinya segala kebutuhan biologis sedangkan manifestasi kesejahteraan batiniah ialah terpenuhinya kebutuhan psikologis. Wujud konkret keduanya adalah kemakmuran dan keamanan (ketenteraman) seperti dilukiskan dalam al-Qur`an. ”Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS, al-Nahl [16]: 112)
Dengan demikian, keberadaan politik, antara lain, dapat diamati pada tercapainya tujuan-tujuan itu. Dengan kata lain, terwujudnya kesejahteraan bersama menjadi salah satu indikasi otentik adanya politik. Tentu saja, terwujudnya tujuan-tujuan itu sangat berkaitan dengan keberadaan esensi politik dan keefektifan fungsi otentiknya di setiap bidang kehidupan.
Browse » Home » » Mencari Politik (3)